Selasa, 04 September 2012

MEMORIAM OF ANY MY LIFE (1) *STORY*

MEMORIAM OF ANY MY LIFE


                Meratapi nasib yang kini aku jalani. Aku berjalan seakan di lorong gelap yang tidak berpenghuni sama sekali. Aku membuka setiap pintu yang bisa ku lihat tapi sama sekali hidup  ini seakan sirna tanpa sosok kehadiran yang selalu kutunggu kedatangannya. Hari ini hari kedua setelah dia pergi meninggalkan kami semua. Berdiri kokoh rumah yang dibangun empat belas tahun yang lalu dari hasil jerih payahnya, kupandangi sejenak dan membayangkan bagaimana jika aku meninggalkan semuanya? Apa aku kuat?
                                “ Gana, ..” suara remaja yang agak bass terdengar dari belakang. Gadis kurus itu tidak menoleh.
                                “ GANA!!! Buruan!!!” teriak suara laki-laki itu lagi. Lalu Gana terbuyar dari lamunan kesedihan.
                Ditiang listri tepat di samping rumahnya masih terdapat bendera kuning yang sudah agak lusuh. Gana memegang bendera itu dan kemudian melepasnya. Laki-laki itu menghampirinya.
                                “ gan,..? apa kau baik-baik saja?” tanya laki-laki remaja itu.
                                “ ya. Aku takut ketinggalan pesawat. Ayo cepat!” kata Gana bergegas. Laki-laki itu terpaku ditempat dan kemudian menatap bendera kuning yang sudah tergulai lemah di jalan raya.

                Damri yang menuju bandara sudah tiba. Gana memandang sosok pria remaja ini.
                                “ jaga mama. Jaga kakak-kakak kamu juga ya Nik. Doakan kakak berhasil dan bisa buat bangga keluarga.” Kata Gana dan memegang tasnya.
                                “ iya. Tapi pulanglah sesekali melihat kami di sini..”kata Niko. Remaja yang baru menginjak usia tujuh belas tahun itu memandangi kakaknya hingga memasuki Damri. Mobil panjang itu berlalu dengan  begitunya dan hanya meninggalkan asap yang membuat Niko batuk tak hentinya.

>>>>> BANDUNG.

                Ini kali pertamanya gadis muda yang bertekat mengejar cita-citanya di kota penuh dengan seni ini menginjakkan kakinya. Awalnya dia tidak terbiasa dengan orang yang terlalu heboh di setiap sudut kota, namun kemudian dia tersenyum ketika melihat taman di penuhi dengan suasana yang hangat dengan alam.
                                “ ini lah bandung. Semoga terbiasa ya, Na..” kata kak Mega yang menjemputnya.
                                “ iya kak. “ jawabnya singkat dan di iringi senyum kepuasan.
                Mobil mini itu meluncur kesebuah pekarangan rumah yang besar dan luas. Rumahnya tak bertingkat hanya saja lebih lapang. Sapaan dari depan rumah menunggu. Tampak senyum sudah berjajar rapi disana.
                                “ tuh, semua orang nyambut kedatangan kamu..”Kata Kak Mega dan melepas sabuk pengamannya. Gana turun seakan sudah fasih dengan keadaan. Mata yang sembab masih tampak dan itu membuat Tantenya sangat sedih ketika menyambut gadis ini.
                                “ Gana! “ sambut Tante Mia dan memeluk keponakannya itu dengan erat dan haru yang menggebu-gebu.
                                “ maaf ya, tante gak bisa datang ke pemakaman papa kamu. Dan maaf, kalau tante memaksa kamu ke sini..”kata Tante Mia dan mereka berjalan menuju ruang tamu.
                                “ iya tante. Lagi pula aku butuh refreshing. “kata Gana dengan mudahdan senyumnya lepas kali ini.
                Mega menghantarkan Gana ke kamarnya dan kemudian menyuruh Gana segera beristirahat. Dia tak mau anggota rumah yang baru itu tampak seperti orang yang tak terurus kesehatannya. Sebelumnya Mega berjanji sore nanti dia akan membawa Gana pergi ke Toko Roti terkenal di Bandung.

                Dia hanya menutup mata dan tak tidur sepenuhnya. Semenjak kepergian ayahnya dia hanya bisa tidur 3 jam saja. Tapi seterusnya dia tidak merasakan kantuk. Namun lingkaran matanya tampak tidak bersahabat. Semakin lama semakin jelas.
                Janji Mega membawa Gana ke Toko Roti tepat. Sebelum Gana nantinya sibuk dengan kuliah dia bertekat akan memperkenalkan kota Bandung pada saudaranya itu. Hari ini Gana berpakaian rapi tapi menampilkan sifat santai. Dia duduk dengan sabuk pengaman yang ketat dan menatap sepanjang perjalanan mereka
                                “ kamu harus coba semua rotinya ya! Harus.. badan kamu itu kayak orang yang gak terurus. “kata Mega.
                                “ tapi aku lagi gak lapar kak..”kata Gana.
                                “ mana ada orang makan harus nunggu laper! Udah ah, gak usah banyak komplain. Eh, nanti kamu kuliah sambil kerja?”tanya Mega sambil memainkan stirnya.
                                “ aku belum kepikiran. Tapi kayaknya ia. Lagi pula gak selamanya juga kan aku harus tinggal bersama di rumah kakak.”kata Gana.
                                “ loh,!? Siapa bilang. Lagi pula, Jerry dan  Arlio belum tentu pulangnya dari Amrik, jadi kamu tinggal aja deh di rumah kita.” Bujuk Mega. Mereka sampai, Mega menyeret Gana masuk kedalam toko roti tersebut dan kemudian  mendudukannya di kursi empuk. Banyak anak-anak Gaul di sana sedang sharing bareng dengan teman-temannya. Entah apa yang mereka bicarakan hingga setengah jam mereka duduk di toko tersebut mereka belum pergi juga.
                                “ apa sih yang kamu khawatirkan ? Jerry itu 2 tahun lagi baru pulang, Arlio 3 tahun lagi. Ayolah kamu gak bayar kok. “kata Mega.
                                “ tapi gak enak kak. Numpang di rumah orang, terus aku pakai kamar mereka . bukannya kata tante mia aku Cuma sementara?” kata Gana lagi.
                                “ NO! Kemarin kita kira kamu itu ambil Universitas ada asramanya. Ternyata enggak. Untung aja aku cek, “kata Kak Mega sambil menyendokan Yogurt ke mulutnya.
                                “ yah, liat nanti deh” kata Gana.
                                “ kok liat nanti sih! Harus TITIK!” kata Mega dengan nada yang ngotot.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar