Edgar Pov;
Terhitung semenjak gadis yang
bernama Rena Ardina mengoyak keheningan di kehidupannya, dia tak pernah
sedikitpun berbicara pada gadis yang menjadi adiknya itu. Semenjak Rena lahir,
gadis itu menyita semua perhatian kedua orang tuanya yang tadinya kepadanya.
Bukannya Edgar frustasi tapi dia merasa tenang. Selama 19 tahun hingga detik
ini dia tak pernah berbicara banyak bahkan saling tertawa pun tak pernah.
“ harusnya loe
bisa lebih baik ke dia Gar”kata Kiki.
“ kenapa harus gitu.?so far she is fine.”kata Edgar sesekali
memetik gitarnya.
“ adek gue eca
udah ngasih tau ke gue kalau Rena itu kemana-mana selalu sendiri. Dia gak punya
temen sebiji pun.”kata Kiki. Gadis itu terkadang emosi dengan sikap Edgar yang
tak mau peduli.
“ loe selidikin
adek gue?”Tanya Edgar tetap santai dan datar.
“ engga. Tapi
Eca selalu nanyakin kenapa Rena itu gitu. Adek gue kan tau kalau loe itu sohib
gue sering datang ke rumah tapi gak pernah bawa Rena. Dan asal loe lebih tau,
dia itu selalu jadi korban bul”yan"kata
Kiki.
Rena gak pernah punya teman dan selalu jadi
korban bullyan..?! astaga Rena…
“ kenapa loe
peduli banget sama dia?”Tanya Edgar.
“ karena dia
adek loe. Dan dia adek gue juga, dan Eca merasa kasian sama dia. Terkadang Eca
mau samperin Rena tapi Eca gak berani. Eca terkadang takut, apa memang Rena
pengen sendiri ? jadi dia ngerasa takut gimana gitu kalau pengen deket. Loe
harusnya bisa jadi teman sekaligus kakak yang baik buat dia gar. Entar kalau
loe pulang loe usahain bisa deket sama dia. Apalagi sekarang udah mau UN
merekanya disinilah peran kita sebagai kakak bisa jadi wakil orang tua
kita.”kata Kiki lagi.
Kiki Salendra, gadis itu tomboy
feminism dan dia itu sudah lama kenal dengan Edgar. Kiki itu punya jiwa social
tinggi, dia sangat sayang dengan Eca,Kesha Salendrinansyah. Dia dan Kesha akrab
, dan dia sangat penasaran dengan Edgar. Apa yang membuatnya penasaran? Bukan
hatinya tapi entah kenapa Edgar selalu curhat
tentang Rena tapi Edgar tak pernah bertindak sebagai kakak yang benar.
Dia tau kalau Edgar sayang pada Rena tapi entah kenapa Edgar terkesan dingin
pada Rena. Apalagi jika Kiki datang berkunjung, pasti Rena hanya tersenyum
tipis, Edgar menyapa seadanya dan setelahnya hening dan tak ada lagi
perbincangan atau canda-candaan antara mereka.
“ dia gak pernah
berani ngobrol sama gue ki. Makanya gue bingung”kata Edgar menerawang.
“ loe yang
harusnya bertindak duluan. Gue gak mau tau pokoknya loe harus bisa jadi kakak
yang baik buat Rena. Beri dia motivasi!”kata Kiki dan kemudian beranjak dari
sisi Edgar.
-
Rena hanya menatap gitarnya, dia
merasa bosan. Ada sisi ingin menyentuhnya tapi tekadnya tertepis sejenak. Dia
melihat jam dinding di kamarnya. Sudah jam enam sore dan Dion belum datang? Dia
mengingat janji Dion yang ingin berkunjung ke rumahnya. Aneh sih memang
tiba-tiba saja Dion ingin berkunjung. Masih banyak yang ingin dia korek tentang
Dion. Saat sedang berkhayal tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.
“ iya??” teriak
Rena.
“ ada tamu tuh
dek.”kata Edgar. Dia bisa menjelas suara itu kalau itu milik Edgar. Rena
membuka pintu kamarnya.
“ siapa
kak?”Tanya Rena.
“ gak tau. Kamu
kan gak pernah bawa bawa teman kerumah”kata edgar.
“ cieee yang
perhatian sama adeknya.hahaha. cowok?”Tanya Rena masih tersenyum.
“ iiiiiiiiiiiiyaaaaa.
Nah! Ketauan! Pacar ya?! wuahhhhh”kata Edgar. Kilatan jail itu muncul lagi.
“ enak aja! Udah
ah kasian dion nunggu dibawah. Kakak ikutan juga ya kebawah biar aku kenalin
sama teman akrabku,Dion”kata Rena.
“ iya..iya..tapi
cakep loh dek. Kulitnya putih banget.”kata Edgar lagi sambil mengikuti langkah
Rena dari belakang.
“ hah?! Dia
bukannya pakai tudung-tudung?”Tanya Rena polos.
“ engga. Kakak
aja tadi heran, dia itu malaikat atau manusia”kata Edgar menerawang
pertemuannya dengan cowok yang kata Rena bernama Dion. Entah kenapa Rena
cepat-cepat turun kebawah menelusuri anak tangga dan kemudian sudah mendapati seorang cowok duduk
memakai baju hitam. Rambutnya coklat terang, dan kulitnya benar-benar
putih.sekali. Mungkin karena pakai baju hitam jadi kelihatan kontras.
“ D..Di..Dion?”
kata Rena serak.
“ hai..sori ya
datang jam segini”kata Dion yang kini sudah berdiri dan berhadapan dengannya.
Rena terdiam dan susah payah dia menelan ludahnya. Dia sedikit tercengang dan
tak menyangka kalau di balik tudung hitam itu ada sebuah wajah…tampan.
“ ren..ren……hei”
Dion mengguncang tubuh Rena.
“ so. Sori.
Gu..ng…gu” Rena tergugup.
“ iya. It’s oke. Aku tau aku cakep. Haha”kata
Dion menggaruk tengkuknya padahal tak gatal
“ ini dion ya? pacar
Rena?”Tanya Edgar. Dengan cepat Rena berpaling menatap Edgar horror.
“kak! Sopan dong
sama tamu. Ini teman aku. Bukan pacar..”kata Rena. Dia merasa malu dengan
tingkah Edgar kakaknya yang sok tau.
“ kakak kan gak
tau Ren. Oh ya saya Edgar Daniel” kata Edgar tersenyum mengulurkan tangannya.
“ Dion. Dion
Armando”kata Dion tersenyum ramah dan menyambut tangan kekar itu.
“ yaudah. Kalian
ngbrol dulu. Kakak mau keatas mau ngurus tugas. Entar kalau udah kelar PDKT
nya,Rena kamu ambilin gitar di gudang ya. kakak mau perbaiki. Hehehe”kata Edgar
dan melenggang pergi dengan siulan menggoda. Sialan kak edgar..batinnya.