Rembulan
saja mengetahui siapa dia tapi aku tidak.
Aku
bukan tipikal orang suka memperhatikan terang yang disekililingku. Aku tidak
pernah berpikir bahkan tak pernah tersirat sedikitpun di benak ku kalau kita
yang akan menjadikan bumi ini terang bersama. Tautan kata demi kata sederhana
membuahkan kasih sayang lebih. Tapi itu hanya salah satu dari kita. Aku tetap
dengan diriku yang lama. Hatiku terlalu lama redup hingga aku tak menyadari
jika seseorang sudah mulai menerangi duniaku yang gelap.
Gelap hatiku bukan karena kelicikan
dunia. Gelap hatiku dikarenakan aku yang selalu berusaha menerangi setiap dunia
orang, namun semuanya sirna dan aku menelan kekecewaan. Aku berhenti untuk
membuat segalanya terang. Dan aku memutuskan untuk menerangi itu cukup
dilakukan lawan ku. Bukan aku yang selama ini terlalu banyak memberikan
kesempatan dan sibuk mencari. Tebar senyum yang kurasa sia-sia.
Terang itu datang dikala saat aku
tidak membutuhkan. Rembulan sebagai saksi dimana kita sebenarnya ditakdirkan.
Tapi tempat mu salah karena kau sudah memberikan hatimu pada yang lain. Apakah
waktu yang mengatur ini? Entahlah.
Kata-kata dan keakraban yang membuat
kita bertemu kembali. Kalau tidak ada sepasang merpati putih yang menghantarkan
kita begini. Saling mengirim kata dan selalu berusaha memberikan terbaik. Apa?
Terbaik? . Abu-abu yang mencemari hatiku. Aku tidak bisa memberikan terbaik
tapi kau tetap menerangi. Abu-abu masih menutupi ku. Ragu dan bimbang itu yang
membuatku terpenjara.
Aku mencoba tapi semuanya serasa
sirna hingga mungkin kau memutuskan menunggu dan waktu yang menunjukan jalan
itu untukmu. Waktu memang baik dan aku beruntung kau selalu diberikan
kesabaran. Bukan waktu saja tapi yang Maha Kuasa yang sudah memberikan kita
kesempatan untuk bertemu.
Kau deretkan tiap kata pengakuan
dikala aku bertanya, kau berikan aku apa yang selama ini mungkin membuat
benteng hatiku melebur. Si abu-abu yang sudah mulai menghilang hingga nyaris
menjadi terang. Gayung bersambut, dan kau menangkapnya. Tapi ada kala spasi di
tiap waktu dan suasana yang membuatmu kecewa, dan aku membuatnya. Penyesalan ?
dan maaf ? bagiku cukup tapi bagimu tidak karena kau ingin membuat aku yang
terbaik.
Egois. Apa egois yang menjauhkan
kita? Rentetan kata itu sudah tidak lagi mempan. Tapi kau tetap memberikan apa
yang kau punya, semua kata yang sebisa kau berikan menghibur dan membentuk
hatiku yang sedikit lagi terang. Tapi lagi dan lagi semuanya runtuh dan itu
kulakukan.
Kesempatan! Aku yakin kesempatan
sudah mengalah dengan waktu hingga spasi panjang membentang jarak kita
sekarang. Perlahan namun pasti, itu yang sekarang tercipta. Aku marah, karena
kau bukan yang dulu lagi. Tapi aku mengerti setiap aku menghempaskan batu
kekecewaan ku, kau meminta maaf hingga kau mengalah dan itu menambah spasi
diantara kita.
Perlahan namun pasti, waktu
membentang kita. Semakin lebar sekarang hingga tak menentu arah. Aku menangis.
Karena aku wanita hanya itu yang bisa kulakukan. Rembulan menjadi saksi lagi,
tapi kau memutar jam. Memutar segalanya. Harusnya indah kini menjadi duka,..itu
bagiku. Tapi bagimu kurasa itu hanya sebuah susunan kosa kata yang sederhana.
Berdoa. Itu yang kulakukan. Aku
menunggu sebuah harapan dibalut dengan rindu kenangan dulu. Sebenarnya aku
trauma dengan orang yang bernama yang sama seperti mu tapi aku tidak menyerah.
Aku berusaha. Mengembalikan dan mengutarakan apa yang sebenarnya ingin ku
katakan. Lidah kelu dan aku yang menunda membuat kita jadi seperti ini. Kapan
kita bisa seperti dulu lagi dengaan sebuah hati yang berbeda. Menjadi merah dan
kita saling berbagi bersama. Seperti sepasang merpati lain? Itu hanya harapan
putih yang saat ini tersirat di benakku. :’|
#Don’t you remember