Sabtu, 23 Maret 2013

Stroy on March :)


14 March 2013
                Lelaki tak seberapa. Kau memang tak seberapa dimata mereka tapi kau berarti buat ku. Terkadang aku menyalahkan diriku terkadang aku menyalahkan waktu. Kenapa waktu dan semuanya mempertemukan ku denganmu. Tapi itu semua salah ku juga, karena terlalu lebih besar mengambil andil. Perasaan ragu” kemarin itu terjawab dengan benar sekarang.
                Seakan masa lalu tereview kembali. Kau sama saja dengan laki-laki yang kemarin. Nama kalian sama, dan kalian sama-sama menyukai masa lalu kalian. aku tak ingin mengucapkan dirimu pemberi harapan palsu, karena kurasa harapan itu semuanya timbul karena aku. Aku disini yang salah sebenarnya. Aku tak bisa menyalahkan waktu karena waktu hanya penyeling diantara kita. :’)

Rabu, 13 Maret 2013

Story On March :')



13 March 2013
                Apa yang aku utarakan semalam. Aku sudah lakukan! Aku melakukannya. Yap! Aku dengan beraninya mengusir segala butiran debu yang menggangunya. Tau? Apa? Dia senang. Entah yang dilakukannya benar atau tidak! Tapi yang pasti aku bisa membuatnya tau siapa aku sebenarnya. Sekali lagi aku cek baris kata yang berbentuk rapi di dinding yang di gerakkan benda ajaib yang bisa menjelajahi dunia itu. Tau ? kata-kata semalam bagaikan sampah di onggokan tumpukan jutaan kata. Tak ada gunanya. Ya. Tak ada gunanya.
                Yakin. Itu yang aku bisa simpulkan , kau takut dia yang pernah kau sukai di masa lalu mengetahui. Aku tau, entah kau malu atau tidak. Tapi ya sudah, aku biarkan saja. Lagipula aku mengingat, kita tanpa status :’). Hanya teman bertukar kasih, dan pikiran serta menuntaskan segala hari demi hari bersama lewat pesan singkat.
                Tau. Segala tentang mu saja aku tau lewat dia yang sudah ku anggap sahabat. Tentang masa lalu mu saja aku tau dari dia yang aku anggap sahabat. Isi hati mu kemarin? Mungkin tulus. Tapi apakah masih setulus sekarang..? sekarang semuanya berbalik sepertinya roda berputar pada dunia yang terus melenggang bebas menelusuri sang waktu. Aku hanya bisa menunggu, apa selanjutnya kisah romantisme di hidupku. Apa hati ini menggantung, atau.. ada satu buah titik cerah di balik kisah ku sekarang. Aku lelah. Iya…sungguh. Tapi sepertinya aku tak mau menyerah. :’)

Story On March :')


12 March 2013
                Aku bukan tipe orang yang mudah menyerah hanya karena satu alasan saja, padahal itu benar. Meskipun itu benar, aku memikirkan apa yang kemungkinan terjadi di lain itu juga. Bukan Cuek, tapi berusaha membuatmu berarti. Sejauh mana kau membutuhkan ku, dan kurasa kau menguji ku juga dengan itu. Tapi dengan tidak adanya kata sepanjang kita bungkam rasanya kita saling menguji bukan. Kita tanpa status tapi ada sesuatu yang terpercik diantara kita.
                Kau menjauh, aku biarkan saja, karena aku rasa kau butuh waktu. Aku memang tak bisa membuat mu menunggu sebuah kata yang tak jelas yang ku utarakan kemarin. Sikap pria, tak mau berpegang pada satu prinsip, dia akan mengeluarkan prinsip lainnya. Aku maklumi, karena kita tanpa status. Awal kata, kita sebagai teman bertukar pikiran bukan?
                Hari ini aku ingin aku membuktikan perkataan ku yang sebenarnya. Agar kau tau aku dulu butuh waktu untuk mengenal mu.  :’)

Selasa, 12 Maret 2013

Story On March :')


11 March 2013.

Hari kedua tanpa seseorang yang ku ketahui hatinya (kemarin). Mungkin hanya sejenak aku terduduk terdiam dan berpura-pura jika aku sedang tidak enak badan. Tapi yang sebenarnya aku ini sedang tak ingin mencurahkan isi hatiku pada siapa pun. Dua warna di kibarkan di tiang yang kokoh dan lainnya menghormat dan berbaris rapi, di benakku hanya tertulis, kenapa kisah ku selalu berakhir dengan sebuah pengharapan yang seakan kekal dan tidak menentu arah. Kenapa aku jadi begini. Aku bukan yang kemarin, si ceria yang penuh dengan harapan pasti di depan. Semua menurunkan hormatnya dan beberapa suara bisik sangat jelas membuat ku terusik. Aku bukannya tidak tau, tapi aku pura-pura tidak mendengar. Menutup telinga lebih baik daripada mendengar bualan yang tak nyata hanya seperti kiasan saja. Hari ini langkah awal mengukir angka di kertas emas yang banyak selama ini orang cari dan orang tunggu dan untuk itu mereka menuntut ilmu, merogoh kocek dalam. Tapi aku tidak, aku memang ingin menjadi yang terbaik. Tetesan pikiran harus ku tempuh dengan segala akal yang tersirat di kepala, mengolah setiap apa yang ku cerna dan ku lihat didepan. Hasilnya? Memang aku bukan si pecinta teori yang penuh dengan SAINS. Aku bukan si ahli Einstein yang menghitung rumus mati”an. Aku hanya ingin santai. Keluar dari raungan yang tiap di tentukan membuat ku cukup kehabisan energy. Leher di gerogoti dengan tekanan yang datang dari dalam.
                Hey miss Ceria kembali. Suara lekingan Cempreng bergema meneriakkan “bukan seperti itu” “ayo bergaya” menghiasi layar tipis dengan sedikit editan tanpa menghilangkan unsure nyata yang ada didalamnya. Sejenak kupandang, semua ini akan menjadi kenangan. Sesekali dinding putih itu kulihat. Tapi seakan tersirat, semua ini akan tetap seperti ini. Semua hening. Beberapa mahluk pencari ukiran emas itu berhamburan meninggalkan ruangan.
                Aku ingin pulang. Melihat hiburan di Laptop sejenak bersama teman ku yang lain semakin menghilangkan diriku tentang mu. Belum sampai di tempat yang nyaman, aku ini memikirkan, apa yang harus aku lakukan nanti dirumah? Itu yang ku pikirkan. Akhirnya? Lesu menghantui. Aku terduduk sejenak dan kemudian melihat isi kulkas. Buah itu ku iris kemarin sebagai bentuk pelampiasan sambil menangis. Dan akhirnya ku goreng. Lumayan J si pahlawan tengah hari berdemo, dan aku mengisinya. Selesai, aku memakan gorengan itu. Nikmat, .. tapi aku semakin teringat. Kau pernah mengirim kata kepadaku melewati mesin ajaib itu sambil menanyakan apa yang sedang ku lakukan dan kebetulan saat itu aku memakan apa yang ku makan sekarang. Sekarang, aku duduk lunglai memikirkan apa yang harus ku lakukan dengan Handphone ini? Sepi tidak ada satu pun kata yang masuk,………dari mu :’)

Minggu, 10 Maret 2013

White Wish


Rembulan saja mengetahui siapa dia tapi aku tidak.
Aku bukan tipikal orang suka memperhatikan terang yang disekililingku. Aku tidak pernah berpikir bahkan tak pernah tersirat sedikitpun di benak ku kalau kita yang akan menjadikan bumi ini terang bersama. Tautan kata demi kata sederhana membuahkan kasih sayang lebih. Tapi itu hanya salah satu dari kita. Aku tetap dengan diriku yang lama. Hatiku terlalu lama redup hingga aku tak menyadari jika seseorang sudah mulai menerangi duniaku yang gelap.
            Gelap hatiku bukan karena kelicikan dunia. Gelap hatiku dikarenakan aku yang selalu berusaha menerangi setiap dunia orang, namun semuanya sirna dan aku menelan kekecewaan. Aku berhenti untuk membuat segalanya terang. Dan aku memutuskan untuk menerangi itu cukup dilakukan lawan ku. Bukan aku yang selama ini terlalu banyak memberikan kesempatan dan sibuk mencari. Tebar senyum yang kurasa sia-sia.
            Terang itu datang dikala saat aku tidak membutuhkan. Rembulan sebagai saksi dimana kita sebenarnya ditakdirkan. Tapi tempat mu salah karena kau sudah memberikan hatimu pada yang lain. Apakah waktu yang mengatur ini? Entahlah.
            Kata-kata dan keakraban yang membuat kita bertemu kembali. Kalau tidak ada sepasang merpati putih yang menghantarkan kita begini. Saling mengirim kata dan selalu berusaha memberikan terbaik. Apa? Terbaik? . Abu-abu yang mencemari hatiku. Aku tidak bisa memberikan terbaik tapi kau tetap menerangi. Abu-abu masih menutupi ku. Ragu dan bimbang itu yang membuatku terpenjara.
            Aku mencoba tapi semuanya serasa sirna hingga mungkin kau memutuskan menunggu dan waktu yang menunjukan jalan itu untukmu. Waktu memang baik dan aku beruntung kau selalu diberikan kesabaran. Bukan waktu saja tapi yang Maha Kuasa yang sudah memberikan kita kesempatan untuk bertemu.
            Kau deretkan tiap kata pengakuan dikala aku bertanya, kau berikan aku apa yang selama ini mungkin membuat benteng hatiku melebur. Si abu-abu yang sudah mulai menghilang hingga nyaris menjadi terang. Gayung bersambut, dan kau menangkapnya. Tapi ada kala spasi di tiap waktu dan suasana yang membuatmu kecewa, dan aku membuatnya. Penyesalan ? dan maaf ? bagiku cukup tapi bagimu tidak karena kau ingin membuat aku yang terbaik.
            Egois. Apa egois yang menjauhkan kita? Rentetan kata itu sudah tidak lagi mempan. Tapi kau tetap memberikan apa yang kau punya, semua kata yang sebisa kau berikan menghibur dan membentuk hatiku yang sedikit lagi terang. Tapi lagi dan lagi semuanya runtuh dan itu kulakukan.
            Kesempatan! Aku yakin kesempatan sudah mengalah dengan waktu hingga spasi panjang membentang jarak kita sekarang. Perlahan namun pasti, itu yang sekarang tercipta. Aku marah, karena kau bukan yang dulu lagi. Tapi aku mengerti setiap aku menghempaskan batu kekecewaan ku, kau meminta maaf hingga kau mengalah dan itu menambah spasi diantara kita.
            Perlahan namun pasti, waktu membentang kita. Semakin lebar sekarang hingga tak menentu arah. Aku menangis. Karena aku wanita hanya itu yang bisa kulakukan. Rembulan menjadi saksi lagi, tapi kau memutar jam. Memutar segalanya. Harusnya indah kini menjadi duka,..itu bagiku. Tapi bagimu kurasa itu hanya sebuah susunan kosa kata yang sederhana.
            Berdoa. Itu yang kulakukan. Aku menunggu sebuah harapan dibalut dengan rindu kenangan dulu. Sebenarnya aku trauma dengan orang yang bernama yang sama seperti mu tapi aku tidak menyerah. Aku berusaha. Mengembalikan dan mengutarakan apa yang sebenarnya ingin ku katakan. Lidah kelu dan aku yang menunda membuat kita jadi seperti ini. Kapan kita bisa seperti dulu lagi dengaan sebuah hati yang berbeda. Menjadi merah dan kita saling berbagi bersama. Seperti sepasang merpati lain? Itu hanya harapan putih yang saat ini tersirat di benakku. :’|

#Don’t you remember