Selasa, 12 Maret 2013

Story On March :')


11 March 2013.

Hari kedua tanpa seseorang yang ku ketahui hatinya (kemarin). Mungkin hanya sejenak aku terduduk terdiam dan berpura-pura jika aku sedang tidak enak badan. Tapi yang sebenarnya aku ini sedang tak ingin mencurahkan isi hatiku pada siapa pun. Dua warna di kibarkan di tiang yang kokoh dan lainnya menghormat dan berbaris rapi, di benakku hanya tertulis, kenapa kisah ku selalu berakhir dengan sebuah pengharapan yang seakan kekal dan tidak menentu arah. Kenapa aku jadi begini. Aku bukan yang kemarin, si ceria yang penuh dengan harapan pasti di depan. Semua menurunkan hormatnya dan beberapa suara bisik sangat jelas membuat ku terusik. Aku bukannya tidak tau, tapi aku pura-pura tidak mendengar. Menutup telinga lebih baik daripada mendengar bualan yang tak nyata hanya seperti kiasan saja. Hari ini langkah awal mengukir angka di kertas emas yang banyak selama ini orang cari dan orang tunggu dan untuk itu mereka menuntut ilmu, merogoh kocek dalam. Tapi aku tidak, aku memang ingin menjadi yang terbaik. Tetesan pikiran harus ku tempuh dengan segala akal yang tersirat di kepala, mengolah setiap apa yang ku cerna dan ku lihat didepan. Hasilnya? Memang aku bukan si pecinta teori yang penuh dengan SAINS. Aku bukan si ahli Einstein yang menghitung rumus mati”an. Aku hanya ingin santai. Keluar dari raungan yang tiap di tentukan membuat ku cukup kehabisan energy. Leher di gerogoti dengan tekanan yang datang dari dalam.
                Hey miss Ceria kembali. Suara lekingan Cempreng bergema meneriakkan “bukan seperti itu” “ayo bergaya” menghiasi layar tipis dengan sedikit editan tanpa menghilangkan unsure nyata yang ada didalamnya. Sejenak kupandang, semua ini akan menjadi kenangan. Sesekali dinding putih itu kulihat. Tapi seakan tersirat, semua ini akan tetap seperti ini. Semua hening. Beberapa mahluk pencari ukiran emas itu berhamburan meninggalkan ruangan.
                Aku ingin pulang. Melihat hiburan di Laptop sejenak bersama teman ku yang lain semakin menghilangkan diriku tentang mu. Belum sampai di tempat yang nyaman, aku ini memikirkan, apa yang harus aku lakukan nanti dirumah? Itu yang ku pikirkan. Akhirnya? Lesu menghantui. Aku terduduk sejenak dan kemudian melihat isi kulkas. Buah itu ku iris kemarin sebagai bentuk pelampiasan sambil menangis. Dan akhirnya ku goreng. Lumayan J si pahlawan tengah hari berdemo, dan aku mengisinya. Selesai, aku memakan gorengan itu. Nikmat, .. tapi aku semakin teringat. Kau pernah mengirim kata kepadaku melewati mesin ajaib itu sambil menanyakan apa yang sedang ku lakukan dan kebetulan saat itu aku memakan apa yang ku makan sekarang. Sekarang, aku duduk lunglai memikirkan apa yang harus ku lakukan dengan Handphone ini? Sepi tidak ada satu pun kata yang masuk,………dari mu :’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar