11 March 2013.
Hari kedua tanpa seseorang yang
ku ketahui hatinya (kemarin). Mungkin hanya sejenak aku terduduk terdiam dan
berpura-pura jika aku sedang tidak enak badan. Tapi yang sebenarnya aku ini
sedang tak ingin mencurahkan isi hatiku pada siapa pun. Dua warna di kibarkan
di tiang yang kokoh dan lainnya menghormat dan berbaris rapi, di benakku hanya
tertulis, kenapa kisah ku selalu berakhir dengan sebuah pengharapan yang seakan
kekal dan tidak menentu arah. Kenapa aku jadi begini. Aku bukan yang kemarin,
si ceria yang penuh dengan harapan pasti di depan. Semua menurunkan hormatnya
dan beberapa suara bisik sangat jelas membuat ku terusik. Aku bukannya tidak
tau, tapi aku pura-pura tidak mendengar. Menutup telinga lebih baik daripada
mendengar bualan yang tak nyata hanya seperti kiasan saja. Hari ini langkah
awal mengukir angka di kertas emas yang banyak selama ini orang cari dan orang
tunggu dan untuk itu mereka menuntut ilmu, merogoh kocek dalam. Tapi aku tidak,
aku memang ingin menjadi yang terbaik. Tetesan pikiran harus ku tempuh dengan
segala akal yang tersirat di kepala, mengolah setiap apa yang ku cerna dan ku
lihat didepan. Hasilnya? Memang aku bukan si pecinta teori yang penuh dengan
SAINS. Aku bukan si ahli Einstein yang menghitung rumus mati”an. Aku hanya
ingin santai. Keluar dari raungan yang tiap di tentukan membuat ku cukup
kehabisan energy. Leher di gerogoti dengan tekanan yang datang dari dalam.
Hey
miss Ceria kembali. Suara lekingan Cempreng bergema meneriakkan “bukan seperti
itu” “ayo bergaya” menghiasi layar tipis dengan sedikit editan tanpa
menghilangkan unsure nyata yang ada didalamnya. Sejenak kupandang, semua ini
akan menjadi kenangan. Sesekali dinding putih itu kulihat. Tapi seakan
tersirat, semua ini akan tetap seperti ini. Semua hening. Beberapa mahluk
pencari ukiran emas itu berhamburan meninggalkan ruangan.
Aku
ingin pulang. Melihat hiburan di Laptop sejenak bersama teman ku yang lain
semakin menghilangkan diriku tentang mu. Belum sampai di tempat yang nyaman,
aku ini memikirkan, apa yang harus aku lakukan nanti dirumah? Itu yang ku
pikirkan. Akhirnya? Lesu menghantui. Aku terduduk sejenak dan kemudian melihat
isi kulkas. Buah itu ku iris kemarin sebagai bentuk pelampiasan sambil
menangis. Dan akhirnya ku goreng. Lumayan J
si pahlawan tengah hari berdemo, dan aku mengisinya. Selesai, aku memakan
gorengan itu. Nikmat, .. tapi aku semakin teringat. Kau pernah mengirim kata
kepadaku melewati mesin ajaib itu sambil menanyakan apa yang sedang ku lakukan
dan kebetulan saat itu aku memakan apa yang ku makan sekarang. Sekarang, aku
duduk lunglai memikirkan apa yang harus ku lakukan dengan Handphone ini? Sepi
tidak ada satu pun kata yang masuk,………dari mu :’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar