BAB 2
Rasa
kantuknya masih tersisa di sela-sela pandangannya yang masih belum menemukan
titik sesungguhnya. Si pemilik tubuh kurus itu keluar sambil menguap dari
kamarnya dengan di iringi sinar matahari yang mengintip dari sela-sela
ventilasi kontrakannya. Suara air meluncur kedalam gelas menjadi sebuah irama
penenang sejenak di telinga. Tenggorokannya terasa kering setelah melewati
tidur malamnya hanya empat jam.
“
ain, ada telepon untukmu.” Seru Merry teman sekontrakannya.
Siapa lagi kalau pagi-pagi seperti ini menelepon jika tidak
Lidia, pasti Rey. Mereka biasa merengek-rengek supaya sesegera mungkin dia
datang kesana dan membawa pesanan sarapan pagi mereka. Tapi , ini
sudah jam sebelas apa mungkin mereka menunggunya? Apa mungkin mereka akan
menyemburnya dengan kata-kata yang menghujam hatinya. Memang mereka seniornya
sekaligus malaikat abu-abunya. Kenapa abu-abu? Karena mereka tak pernah menentu
sifatnya.
“
halo…” suara Rain menggema sejenak di ruang tamu . 30 detik sapaannya akhirnya
dijawab oleh suara berat dari penelepon.
“
kau Rain?”
“
ya… dengan siapa aku bicara?”
“
aku…… VIVIAN!!! Ahahahahaha. Kena!” seru suara cempreng disana.
“
sialan! Ku kira siapa! “
“
memang kau kira aku siapa?”
“
ku kira kau senior ku dengan jutaan dumelannya. Hahahaha. Ada apa menelepon
sepagi ini..?”
“
aku menitip sesuatu pada seseorang. Dia akan menghampiri mu nanti tepat pukul
satu siang di cafĂ© tempat biasa dulu kita bertemu.”
“
bagaimana bisa aku tau kalau orang itu pesuruhmu?”
“
gampang. Aku sudah memberikan fotomu.”
“
seenaknya kau memberikan fotoku pada orang yang tidak ku kenal?! “
“
hei,hei.. tenang saja. Dia tidak akan macam-macam.”kata Vivian. “ itu semacam
cinderamata karena aku semalam baru pulang dari Prancis. Wuhuuuuuu…”
“ ya ampun, yaya. Baiklah. Aku mau
ke kampus terlebih dulu.” Kata Rain dan kemudian mengakhirinya. Rain sejenak
tersenyum menutup teleponnya dan kemudian segera berlari mengambil handuk.
&
“
jadi maksudmu kami tak memiliki kesempatan?!” seru Lidia dan alis matanya
bertaut ditengah.
“
kau berarti belum mengerti daritadi maksudku Lidia.” Kata lawan bicaranya
dengan tenang.
“
aku tak mengerti, sudah tiga tahun aku memberikan hiburan-hiburan baik untuk
majalah kalian. Dan kalian meletakkannya di bagian belakang hanya sebagai
lintas bacaan. Aku memakluminya. Tapi kenapa sekarang….. ah!” serunya dan
mencampakkan penanya.
“
kami mengalami sedikit perubahan Badan kepengurusan. Semuanya berganti posisi. Dan
sekarang orang yang menduduki produksi di bagian penerbit itu bukan Antonio
lagi. Antonio di pecat setelah dia ketahuan menggelapkan beberapa dana perusahaan
kami. Maka dari itu, kami sedang masa-masa pembangkitan sekarang.”
“
tapi, aku hanya menuntut hak ku jack! Baiklah, jika itu kehendak kalian. Aku akan
menandatangani pemutusan kontrak ini!” dia mengambil pena dengan tinta hitam
dan kemudian menantangani surat pemutusan kontrak kerja dengan Majalah RUNWAY.
Lidia
keluar dari perusahaan yang merupakan memproduksi majalah fashion terbesar di
Indonesia. Dia melihat sejenak gedung itu dan bergumam terkutuklah manusia-manusia itu!. Rey hanya bisa diam setelah dia
melihat Lidia menghentakkan meja mempertahankan kontrak hubungan kerja dengan
Runway Magazine. Tapi semuanya tak bisa dipetahankan. Rey sejenak memahami
Lidia sekarang. Dia bisa melihat betapa kuatnya tekad gadis itu berkarir dan
tekadnya mengalahkan kakaknya, Sandi. Rey kemudian mengambil mobilke parkiran
sementara Lidia menunggu di teras kantor tersebut. Lidia masuk setelah pintu
ditutup keras. Mobil itu berjalan pelan dan sesekali menyeimbangkan dengan mood
Rey.
“
apa dibelakang itu?” Tanya Lidia dengan suara tenang. Lidia melihat dari cermin
didepannya.
“
itu titipan dari sepupu ku. Dia baru saja dari prancis.” Kata Rey dan sesekali focus
didepannya. Selang beberapa lama kemudian mobil Rey sudah terparkir rapi di
parkiran lalu mencari sosok gadis kurus yang ada di selembar foto yang ada
ditangannya.
&
Dari
kejauhan dia bisa melihat seorang gadis dengan baju t-shirt I LOVE FASHION
berwarna fanta dengan celana pendek jeans selutut dipadu dengan boots,sibuk
memainkan ujung pensilnya diatas kertas tebal. Simple but intresting.
“
kamu,….Rain?” Rain mengangkat kepalanya tersadar dengan sosok yang berdiri
didepannya.
“
iya.saya sendiri. Anda saudara Vivian?” Gadis yang disamping pria tinggi
berkacamata itu tampak tak tertuju padanya, tapi pada apa yang ada didepan
Rain.
“
itu, sketsa pakaian mu?” Tanya gadis tinggi berparas cantik dan ayu itu dengan
alis mata tebal menyiratkan dia orang yang sangat tegas.
“
iya. .”
“
boleh aku lihat..?”
to be continue