Senin, 02 September 2013

RAIN 3

BAB 2


            Rasa kantuknya masih tersisa di sela-sela pandangannya yang masih belum menemukan titik sesungguhnya. Si pemilik tubuh kurus itu keluar sambil menguap dari kamarnya dengan di iringi sinar matahari yang mengintip dari sela-sela ventilasi kontrakannya. Suara air meluncur kedalam gelas menjadi sebuah irama penenang sejenak di telinga. Tenggorokannya terasa kering setelah melewati tidur malamnya hanya empat jam.
                        “ ain, ada telepon untukmu.” Seru Merry teman sekontrakannya.
Siapa lagi kalau pagi-pagi seperti ini menelepon jika tidak Lidia, pasti Rey. Mereka biasa merengek-rengek supaya sesegera mungkin dia datang kesana dan membawa pesanan sarapan pagi mereka. Tapi ,  ini sudah jam sebelas apa mungkin mereka menunggunya? Apa mungkin mereka akan menyemburnya dengan kata-kata yang menghujam hatinya. Memang mereka seniornya sekaligus malaikat abu-abunya. Kenapa abu-abu? Karena mereka tak pernah menentu sifatnya.
                        “ halo…” suara Rain menggema sejenak di ruang tamu . 30 detik sapaannya akhirnya dijawab oleh suara berat dari penelepon.
                        “ kau Rain?”
                        “ ya… dengan siapa aku bicara?”
                        “ aku…… VIVIAN!!! Ahahahahaha. Kena!” seru suara cempreng disana.
                        “ sialan! Ku kira siapa! “
                        “ memang kau kira aku siapa?”
                        “ ku kira kau senior ku dengan jutaan dumelannya. Hahahaha. Ada apa menelepon sepagi ini..?”
                        “ aku menitip sesuatu pada seseorang. Dia akan menghampiri mu nanti tepat pukul satu siang di cafĂ© tempat biasa dulu kita bertemu.”
                        “ bagaimana bisa aku tau kalau orang itu pesuruhmu?”
                        “ gampang. Aku sudah memberikan fotomu.”
                        “ seenaknya kau memberikan fotoku pada orang yang tidak ku kenal?! “
                        “ hei,hei.. tenang saja. Dia tidak akan macam-macam.”kata Vivian. “ itu semacam cinderamata karena aku semalam baru pulang dari Prancis. Wuhuuuuuu…”                    
“ ya ampun, yaya. Baiklah. Aku mau ke kampus terlebih dulu.” Kata Rain dan kemudian mengakhirinya. Rain sejenak tersenyum menutup teleponnya dan kemudian segera berlari mengambil handuk.
&

                        “ jadi maksudmu kami tak memiliki kesempatan?!” seru Lidia dan alis matanya bertaut ditengah.
                        “ kau berarti belum mengerti daritadi maksudku Lidia.” Kata lawan bicaranya dengan tenang.
                        “ aku tak mengerti, sudah tiga tahun aku memberikan hiburan-hiburan baik untuk majalah kalian. Dan kalian meletakkannya di bagian belakang hanya sebagai lintas bacaan. Aku memakluminya. Tapi kenapa sekarang….. ah!” serunya dan mencampakkan penanya.
                        “ kami mengalami sedikit perubahan Badan kepengurusan. Semuanya berganti posisi. Dan sekarang orang yang menduduki produksi di bagian penerbit itu bukan Antonio lagi. Antonio di pecat setelah dia ketahuan menggelapkan beberapa dana perusahaan kami. Maka dari itu, kami sedang masa-masa pembangkitan sekarang.”
                        “ tapi, aku hanya menuntut hak ku jack! Baiklah, jika itu kehendak kalian. Aku akan menandatangani pemutusan kontrak ini!” dia mengambil pena dengan tinta hitam dan kemudian menantangani surat pemutusan kontrak kerja dengan Majalah RUNWAY.
            Lidia keluar dari perusahaan yang merupakan memproduksi majalah fashion terbesar di Indonesia. Dia melihat sejenak gedung itu dan bergumam terkutuklah manusia-manusia itu!. Rey hanya bisa diam setelah dia melihat Lidia menghentakkan meja mempertahankan kontrak hubungan kerja dengan Runway Magazine. Tapi semuanya tak bisa dipetahankan. Rey sejenak memahami Lidia sekarang. Dia bisa melihat betapa kuatnya tekad gadis itu berkarir dan tekadnya mengalahkan kakaknya, Sandi. Rey kemudian mengambil mobilke parkiran sementara Lidia menunggu di teras kantor tersebut. Lidia masuk setelah pintu ditutup keras. Mobil itu berjalan pelan dan sesekali menyeimbangkan dengan mood Rey.
                        “ apa dibelakang itu?” Tanya Lidia dengan suara tenang. Lidia melihat dari cermin didepannya.
                        “ itu titipan dari sepupu ku. Dia baru saja dari prancis.” Kata Rey dan sesekali focus didepannya. Selang beberapa lama kemudian mobil Rey sudah terparkir rapi di parkiran lalu mencari sosok gadis kurus yang ada di selembar foto yang ada ditangannya.
&
            Dari kejauhan dia bisa melihat seorang gadis dengan baju t-shirt I LOVE FASHION berwarna fanta dengan celana pendek jeans selutut dipadu dengan boots,sibuk memainkan ujung pensilnya diatas kertas tebal. Simple but intresting.
                        “ kamu,….Rain?” Rain mengangkat kepalanya tersadar dengan sosok yang berdiri didepannya.
                        “ iya.saya sendiri. Anda saudara Vivian?” Gadis yang disamping pria tinggi berkacamata itu tampak tak tertuju padanya, tapi pada apa yang ada didepan Rain.
                        “ itu, sketsa pakaian mu?” Tanya gadis tinggi berparas cantik dan ayu itu dengan alis mata tebal menyiratkan dia orang yang sangat tegas.
                        “ iya. .”

                        “ boleh aku lihat..?”

to be continue

Minggu, 01 September 2013

RAIN 2

Acara pagelaran akhir semester di kampus berjalan lancar. Tepat pukul 00.00 ditutup dengan ribuan kembang api dan beberapa pernak-pernik pemeriah acara besar seperti lampu neon dan lain-lain. Bagi Rain ini akan menjadi malam yang membutuhkan istirahat yang exra. Masalahnya sehabis ini dia pasti akan kembali menjajali dunia kesibukannya bermain dengan baju-baju rancangan para seniornya, mulai merapikan hingga membungkusnya dan mengantarkannya ke laundry. Dengan cepat , dia segera menyeleksi beberapa baju dan kemudian menyusunnya dengan rapi.
                       “ hei ain, kau tidak pulang?” Tanya Prianka model tinggi sekaligus mahasiswi di kampus ini. Dia sudah menjadi model Go Internasional beberapa model lainnya yang mengambil studi di kampus ini.
                       “ belum kak, masih ada beberapa kerjaan yang harus di bereskan nih..” kata Rain sambil menunjuk beberapa rancangan yang siap untuk digantungkan.
                       “ bilang dong sama seniornya, sama bagian panitia suapaya kamu di berikan keringanan.” Dalam batin Rain , dia Cuma bisa berharap andaikan para Senior mendengar ucapan Prianka saat ini. Andaikan orang-orang yang sedang lalu lalang sekarang disekitarnya mendengar ucapan ini..andaikan…….
                       “ ya, udah resiko begini kak..”kata Rain tak lupa dengan senyumnya.
                       “ wuahhh, salut deh sama kamu ain. Kalau gitu aku pulang dulu ya.. jaga kesehatan” kata Prianka menyentuh pundak Rain seakan mentransfer energy Prianka yang masih tersisa dari langkahnya diatas saat runway tadi.
           Buatnya semua ini bukan beban. Sudah sangat bersyukur dia dibantu oleh senior-seniornya masuk ke Institut Art Indonesia. Bukan hal yang mudah awalnya bergabung dan berteman dengan mereka. Rain menyukai dunia fashion sama seperti mendiang ibunya. Dia bertekad membawa nama harum ibunya kembali, setelah beberapa tahun yang lalu perusahaan mereka gulung tikar. Membuatnya harus mempelajari hidup dari bawah , menghadapi kehidupan social ditengah-tengah pergaulannya yang saat itu dia akan menginjak bangku SMA. Awalnya dia minder dan pada akhirnya dia dipertemukan dengan solusi baik dari seorang sahabatnya, Vivian.
                       “ jangan putus asa. Jangan dengar apa kata mereka. Coba tutup telinga mu seperti ini..dan pejamkan matamu.”kata Vivian sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya dan kemudian memejamkan matanya. Saat itu mereka berada di halte depan sekolah. Lalu lintas sangat padat, bahkan macet. Tak jarang motor berknalpot racing membuat jiwa mereka terganggu dan sesekali harus membuat volume suara mereka keras. Rain mengikuti Vivian.
                       “ anggap kamu lagi di hujat , di caci maki ribuan orang, ditengah-tengah  orang yang mem-bully kamu ain, …” kata Vivian. Rain membayangkannya, dia memejamkan matanya dan kemudian mulai tertekan. Rasanya perih dan air matanya mengalir lancar begitu saja.
                       “ sekarang tutup telingamu dengan telapan tangan mu ain..” kata Vivian. Rain melakukannya. Selang beberapa menit kemudian, Rain berkata..
                       “ begini lebih baik.. “ kata Rain dan membuka kedua matanya dan kemudian memeluk Vivian.
           Rain membuka semua yang pernah membuatnya nyaman dan tenang. Kini dia hampir meneteskan pilu.
                       “ kenapa bengong?” seru Rey tiba-tiba.
                       “…” tak ada jawaban membuat Rey khawatir.
                       “ kau sakit ain? Maaf ka..”
                       “ tidak, aku baik-baik saja. “kata Rain dan kemudian tersenyum.
                       “ hah! Disini kalian rupanya. Besok pagi datang jam sepuluh, ke kampus. Kita dapat wawancara dari salah satu majalah terkemuka.”kata Lidia, sang ketua Fashion Show.
                       “ dari majalah apa kak ?..” Tanya Rain.
                       “ aku berbicara pada Rey. Bukan kau. Ingat Rey, jam sepuluh jika berhasil…kau akan mendapatkan apa yang kita inginkan selama ini..”kata Lidia dan kemudian berlalu dengan senyum dari bibirnya yang sensual dan berkedip sebelah mata memberikan kode. Kode apa itu? Apa hubungan Rey dengan Lidia?
                       “ apa kalian punya janji kencan?” Tanya Rain tersenyum dengan mata selidik.
                       “ tidak. Aku punya mimpi yang sama dengan Lidia.”kata Rey.
                       “ ouh ya. Menikah..”kata Rain kali ini senyumnya semakin melebar dan kemudian menatap dengan tatapan meledek.
                       “ kenapa kau seperti itu ain? ..” Tanya Rey kali ini menantang.
                       “ tidak…. Semoga berhasil” bisik Rain dan kemudian pergi melewati Rey.
Rain tersenyum berhasil meledek Rey yang tertangkap basah ternyata punya hubungan khusus dengan atasan sekaligus seniornya itu. Lidia gadis yang sangat-sangat jutek dan terkadang terkesan ganas. Penampilannya memang tertutup. Tapi tubuh sensualnya mana bisa hilang. Dibalut pakaian setebal apapun , bentuknya tetap indah. Maka dari itu , banyak pria melirik dan sesekali mengajaknya kencan. Tapi kebanyakan menolak. Lidia mempunyai criteria tertentu untuk menjadi pasangan kencannya. Hal itu pernah di katakannya saat Rain dan Lidia sedang menyelesaikan suatu rancangan, hanya berdua dia Lab Desain.
                       “ Rain. Kemari..” seru Lidia.
           Ah! Pria itu lagi. Apa dia hendak mengajak kencan Lidia juga, dia kan…
                       “ jadi dia bagian asisten penanganan ini semua?”Tanya Pria itu sambil mengangkat satu alisnya.
                       “ iya. Dia asisten terhebat sepanjang abad yang pernah aku miliki.”kata Lidia.
Ya, pujian yang kali ini sangat-sangat berkesan bagi Rain dan paling sebentar lagi akan terhapus seiring jalannya waktu dan munculnya lagi kemurkaan Lidia dengan alas an..
                        “ maaf. Hormone dari datang bulan…”
                        “ rain, dia ini kakakku. Alvin Sandi Tenorady Dia ini manager salah satu perusahaan majalah PEOPLE di new York. Dia sekarang sedang magang di Indonesia mengambil kuliah di Institut of Art di New York khusus photographer.” Kata Lidia.
                        “ dan. Seperti ku bilang, ini Rain Senja Pahyeti. Dia junior disini dan asisten ku. “ kata Lidia.
                        “ hai, maaf soal kamera anda.” Kata Rain tertunduk dan tak berani menatap mata tajam itu.
                        “ ha? Kamera? Tolong jelaskan ini.”
                        “ sudahlah. Masalah sudah selesai. Aku pulang. Aku ingin istirahat. Selamat atas acara Fashion Show mu yang sukses besar.” Kata Sandi dan kemudian melewati Rain. Seperti ada tanda rasa tidak suka Sandi terhadap dirinya.

                        “ awal perkenalan yang tragis buatmu ain..”kata Lidia dan kemudian meninggalkannya di balik ribuan tanda Tanya yang sekarang muncul diatas kepalanya. Pasti Lidia membencinya. Ah, bukannya Lidia sangat benci dengan Rain dan hanya memanfaatkan ilmu kreatif dan sikap kritisnya ? memang.

to be continue 

RAIN 1

Tahun Pertama..


        Dia menatap bayangan dirinya yang ada dihadapannya tepat di bawah sinar matahari yang sekarang sedang membakar ubun-ubunnya. Dia melihat kedepan dan kemudian mengangkat kameranya lalu menjepret sosok yang ada didepannya.
                       “ oke. Thanks ya..” serunya.
Keringatnya bercucuran dan kemudian dia mencari objek yang lain lagi. Sejenak dia terdiam merasakan sakit kepalanya yang hebat. Dengan memejamkan matanya dan sesekali memegang kepalanya dia berjalan ke bawah pohon tepat di depan kelas prodi Fashion Desain. Menarik nafas sejenak dan kemudian menjernihkan pikirannya dengan segelas air dingin membuat perasaannya sedikit lega sesaat.
                       “ Rey! Bahannya kurang.”
                       “ aduhh. Itu stok terakhir yang kita punya Lid.” Kata Rey .
                       “ jadi gimana dong?...coba cari di gudang stok bahan kulit.” Pinta Lidia.
Selang beberapa menit kemudian datang sebuah gulungan bahan dengan sipembawa berlari-lari. Gadis bertubuh kurus itu harus bergerak cepat sebelum seniornya marah kepadanya kalau rancangan itu tidak tepat selesai untuk peragaan 2 jam lagi yang akan diadakan di kampusnya.
                       “ Rain!” seru Rey dengan cepat dari belakang. Rain berbalik. Tepat dengan itu juga ada seseorang yang berdiri dan kemudian bahan meteran kain yang ada di pundaknya berputar cepat arahnya.
                       “ brakkk!!!!!!!”
Rain membelalakkan matanya seketika setelah berbalik lagi melihat seorang pria terjatuh dan kameranya tergeletak begitu saja dilantai. Cuma lecet dan meninggalkan goresan saja. Tapi……
                       “ mas…kak..om…hei! bangun..bangun.” seru Rain sambil memukul-mukul wajah pria itu berusaha menyadarkannya.
                       “ yak ampun ain! Dia kenapa?! Aduh…” seru Rey membereskan gulungan kain yang jatuh.
                       “ kamu sih re! manggil aku.! Aduh……nih orang kok gak sadar-sadar sih. Bangun dong mas…om…kak.”
                       “ apa kamu bilang?!” seru pria itu dan dengan cepat bergerak berdiri dan seketika Rain di makan dengan tatapan tajam. Rain semakin menciut dikejar dengan tinggi badannya yang berbeda jauh.
                       “ maaf.. tadi saya gak sengaja, mas..om..kak.” kata Rain sambil merapatkan kedua telapak tangannya dan kemudian sujud di kaki pria itu.
                       “ eh,eh eh! Gak usah se-alay ini. Aduh. Bisa hancur repotasi ku .” kata Pria itu dan kemudian menjauh dua langkah kebelakang. Rain memberikan kamera pria itu , yang terjauh dan menyisakan beberapa goresan.
                       “ sekarang, gimana?..kamu mau ganti atau engga?”
Rain terhenyak sejenak dengan sikap dan cara serta nada pria itu. Mahluk terbuat dari apa pria dihadapannya ini ? kenapa tidak mengeluarkan amarahnya sama sekali.
                       “ memangnya bisa gak ganti?”Tanya Rain dengan lugu.
                       “ harus sebenarnya. Tapi yasudahla. Saya tidak mau terlibat cinta pandangan pertama.” Kata Pria itu dan membersihkan kameranya dengan sapu tangannya yang baru saja diambil dari sakunya.
                       “ anda kira , saya tertarik dengan anda?”
                       “ bukan. Coba pikirkan. Kalau kejadian seperti ini ilham nya kebelakang entar pasti jadi Kayak di film-film. Kenalan, terus janji gantiin barang yang rusak. Ketemuan terus-terusan, merasa ketiban sial setiap hari dan kemudian berbuntut-buntut memiliki masalah dengan orang yang sama dan akhirnya tak terselesaikan hingga melibatkan mereka harus bersama-sama terus membuat janji bla.bla.bla. terus nanti ada perpisahan ketika semuanya kelar, dan jadian….muncul perasaan.”kata Pria itu tepat dan pas juga selesai membersihkan kameranya. Rain masih saja terdiam dengan perkataan pria itu barusan.
                       “ gak usah mikir gimana cara gantinya. Saya maafkan. Permisi.” Kata Pria itu dan kemudian berlalu membelakangi Rain yang mengerutkan keningnya tak percaya dengan kejadian barusan.
&

           Acara itu akhirnya mulai dan rancangan itu selesai tepat setengah jam sebelum acara Fashion Show itu dimulai. Kampus mereka selalu membuat acara besar hingga sering menjadi bahan menarik di bahas dimajalah-majalah dunia. Rancangan-rancangan serta hasil karya lainnya dari kampus ini sudah sangat diperhitungkan di luar negri. Seharian ini Rain sangat letih karena membantu seniornya menyusun bahan tugas akhir Semester sekaligus menambah pengalaman buat dia. Rain berdiri sejenak di antara orang-orang yang memiliki jiwa pandang fashion yang bagus.
                       “ thanks Rain. Udah bantu kita. Jadi semuanya berjalan denganr lancer.” Kata Rey sambil melirik Rain dari sisik sudut mata nya.
                       “ yap. Aku juga merasa terhormat bisa membantu kakak-kakak seniorku. “ kata Rain sambil tersenyum tipis di balik balutan skiny jeans dan blazer kulit serta kaos oblong putih biasa dengan sedikit taburan permata di lehernya.
                       “ gimana dengan kejadian tadi sore? Pria itu meminta bayaran?”Tanya Rey dan kali ini berani menatapnya.
                       “ tidak. Dia acuh tak acuh kak. Aneh rasanya ada orang seperti itu. Padahal harga kamera itu kan mahal.”kata Rain tak habis piker.
                       “ bagi dia pasti tidak mahal.”kata Rey lagi.
                       “ dari mana kakak tau?”

                       “ karena dia tidak meminta ganti rugi. “ kata Rey lagi dan kemudian tersenyum tipis dan curi-curi pandang melihat tingkah Rain yang pasti sedang memikirkan dan menerka-nerka bahwa mungkin benar perkataan Rey barusan. 

to be  continue...