Tahun Pertama..
Dia menatap bayangan dirinya yang ada dihadapannya tepat di
bawah sinar matahari yang sekarang sedang membakar ubun-ubunnya. Dia melihat
kedepan dan kemudian mengangkat kameranya lalu menjepret sosok yang ada
didepannya.
“ oke. Thanks ya..”
serunya.
Keringatnya
bercucuran dan kemudian dia mencari objek yang lain lagi. Sejenak dia terdiam
merasakan sakit kepalanya yang hebat. Dengan memejamkan matanya dan sesekali
memegang kepalanya dia berjalan ke bawah pohon tepat di depan kelas prodi
Fashion Desain. Menarik nafas sejenak dan kemudian menjernihkan pikirannya
dengan segelas air dingin membuat perasaannya sedikit lega sesaat.
“ Rey! Bahannya kurang.”
“ aduhh. Itu stok
terakhir yang kita punya Lid.” Kata Rey .
“ jadi gimana
dong?...coba cari di gudang stok bahan kulit.” Pinta Lidia.
Selang
beberapa menit kemudian datang sebuah gulungan bahan dengan sipembawa
berlari-lari. Gadis bertubuh kurus itu harus bergerak cepat sebelum seniornya
marah kepadanya kalau rancangan itu tidak tepat selesai untuk peragaan 2 jam
lagi yang akan diadakan di kampusnya.
“ Rain!” seru Rey dengan
cepat dari belakang. Rain berbalik. Tepat dengan itu juga ada seseorang yang
berdiri dan kemudian bahan meteran kain yang ada di pundaknya berputar cepat
arahnya.
“ brakkk!!!!!!!”
Rain
membelalakkan matanya seketika setelah berbalik lagi melihat seorang pria
terjatuh dan kameranya tergeletak begitu saja dilantai. Cuma lecet dan
meninggalkan goresan saja. Tapi……
“ mas…kak..om…hei!
bangun..bangun.” seru Rain sambil memukul-mukul wajah pria itu berusaha
menyadarkannya.
“ yak ampun ain! Dia
kenapa?! Aduh…” seru Rey membereskan gulungan kain yang jatuh.
“ kamu sih re! manggil
aku.! Aduh……nih orang kok gak sadar-sadar sih. Bangun dong mas…om…kak.”
“ apa kamu bilang?!” seru
pria itu dan dengan cepat bergerak berdiri dan seketika Rain di makan dengan
tatapan tajam. Rain semakin menciut dikejar dengan tinggi badannya yang berbeda
jauh.
“ maaf.. tadi saya gak
sengaja, mas..om..kak.” kata Rain sambil merapatkan kedua telapak tangannya dan
kemudian sujud di kaki pria itu.
“ eh,eh eh! Gak usah
se-alay ini. Aduh. Bisa hancur repotasi ku .” kata Pria itu dan kemudian
menjauh dua langkah kebelakang. Rain memberikan kamera pria itu , yang terjauh
dan menyisakan beberapa goresan.
“ sekarang, gimana?..kamu
mau ganti atau engga?”
Rain
terhenyak sejenak dengan sikap dan cara serta nada pria itu. Mahluk terbuat
dari apa pria dihadapannya ini ? kenapa tidak mengeluarkan amarahnya sama
sekali.
“ memangnya bisa gak
ganti?”Tanya Rain dengan lugu.
“ harus sebenarnya. Tapi
yasudahla. Saya tidak mau terlibat cinta pandangan pertama.” Kata Pria itu dan
membersihkan kameranya dengan sapu tangannya yang baru saja diambil dari
sakunya.
“ anda kira , saya
tertarik dengan anda?”
“ bukan. Coba pikirkan.
Kalau kejadian seperti ini ilham nya kebelakang entar pasti jadi Kayak di
film-film. Kenalan, terus janji gantiin barang yang rusak. Ketemuan
terus-terusan, merasa ketiban sial setiap hari dan kemudian berbuntut-buntut
memiliki masalah dengan orang yang sama dan akhirnya tak terselesaikan hingga
melibatkan mereka harus bersama-sama terus membuat janji bla.bla.bla. terus
nanti ada perpisahan ketika semuanya kelar, dan jadian….muncul perasaan.”kata
Pria itu tepat dan pas juga selesai membersihkan kameranya. Rain masih saja
terdiam dengan perkataan pria itu barusan.
“ gak usah mikir gimana
cara gantinya. Saya maafkan. Permisi.” Kata Pria itu dan kemudian berlalu
membelakangi Rain yang mengerutkan keningnya tak percaya dengan kejadian
barusan.
&
Acara itu akhirnya mulai dan
rancangan itu selesai tepat setengah jam sebelum acara Fashion Show itu
dimulai. Kampus mereka selalu membuat acara besar hingga sering menjadi bahan
menarik di bahas dimajalah-majalah dunia. Rancangan-rancangan serta hasil karya
lainnya dari kampus ini sudah sangat diperhitungkan di luar negri. Seharian ini
Rain sangat letih karena membantu seniornya menyusun bahan tugas akhir Semester
sekaligus menambah pengalaman buat dia. Rain berdiri sejenak di antara
orang-orang yang memiliki jiwa pandang fashion yang bagus.
“ thanks Rain. Udah bantu
kita. Jadi semuanya berjalan denganr lancer.” Kata Rey sambil melirik Rain dari
sisik sudut mata nya.
“ yap. Aku juga merasa
terhormat bisa membantu kakak-kakak seniorku. “ kata Rain sambil tersenyum
tipis di balik balutan skiny jeans dan blazer kulit serta kaos oblong putih
biasa dengan sedikit taburan permata di lehernya.
“ gimana dengan kejadian
tadi sore? Pria itu meminta bayaran?”Tanya Rey dan kali ini berani menatapnya.
“ tidak. Dia acuh tak
acuh kak. Aneh rasanya ada orang seperti itu. Padahal harga kamera itu kan
mahal.”kata Rain tak habis piker.
“ bagi dia pasti tidak
mahal.”kata Rey lagi.
“ dari mana kakak tau?”
“ karena dia tidak
meminta ganti rugi. “ kata Rey lagi dan kemudian tersenyum tipis dan curi-curi
pandang melihat tingkah Rain yang pasti sedang memikirkan dan menerka-nerka
bahwa mungkin benar perkataan Rey barusan.
to be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar