Minggu, 01 September 2013

RAIN 1

Tahun Pertama..


        Dia menatap bayangan dirinya yang ada dihadapannya tepat di bawah sinar matahari yang sekarang sedang membakar ubun-ubunnya. Dia melihat kedepan dan kemudian mengangkat kameranya lalu menjepret sosok yang ada didepannya.
                       “ oke. Thanks ya..” serunya.
Keringatnya bercucuran dan kemudian dia mencari objek yang lain lagi. Sejenak dia terdiam merasakan sakit kepalanya yang hebat. Dengan memejamkan matanya dan sesekali memegang kepalanya dia berjalan ke bawah pohon tepat di depan kelas prodi Fashion Desain. Menarik nafas sejenak dan kemudian menjernihkan pikirannya dengan segelas air dingin membuat perasaannya sedikit lega sesaat.
                       “ Rey! Bahannya kurang.”
                       “ aduhh. Itu stok terakhir yang kita punya Lid.” Kata Rey .
                       “ jadi gimana dong?...coba cari di gudang stok bahan kulit.” Pinta Lidia.
Selang beberapa menit kemudian datang sebuah gulungan bahan dengan sipembawa berlari-lari. Gadis bertubuh kurus itu harus bergerak cepat sebelum seniornya marah kepadanya kalau rancangan itu tidak tepat selesai untuk peragaan 2 jam lagi yang akan diadakan di kampusnya.
                       “ Rain!” seru Rey dengan cepat dari belakang. Rain berbalik. Tepat dengan itu juga ada seseorang yang berdiri dan kemudian bahan meteran kain yang ada di pundaknya berputar cepat arahnya.
                       “ brakkk!!!!!!!”
Rain membelalakkan matanya seketika setelah berbalik lagi melihat seorang pria terjatuh dan kameranya tergeletak begitu saja dilantai. Cuma lecet dan meninggalkan goresan saja. Tapi……
                       “ mas…kak..om…hei! bangun..bangun.” seru Rain sambil memukul-mukul wajah pria itu berusaha menyadarkannya.
                       “ yak ampun ain! Dia kenapa?! Aduh…” seru Rey membereskan gulungan kain yang jatuh.
                       “ kamu sih re! manggil aku.! Aduh……nih orang kok gak sadar-sadar sih. Bangun dong mas…om…kak.”
                       “ apa kamu bilang?!” seru pria itu dan dengan cepat bergerak berdiri dan seketika Rain di makan dengan tatapan tajam. Rain semakin menciut dikejar dengan tinggi badannya yang berbeda jauh.
                       “ maaf.. tadi saya gak sengaja, mas..om..kak.” kata Rain sambil merapatkan kedua telapak tangannya dan kemudian sujud di kaki pria itu.
                       “ eh,eh eh! Gak usah se-alay ini. Aduh. Bisa hancur repotasi ku .” kata Pria itu dan kemudian menjauh dua langkah kebelakang. Rain memberikan kamera pria itu , yang terjauh dan menyisakan beberapa goresan.
                       “ sekarang, gimana?..kamu mau ganti atau engga?”
Rain terhenyak sejenak dengan sikap dan cara serta nada pria itu. Mahluk terbuat dari apa pria dihadapannya ini ? kenapa tidak mengeluarkan amarahnya sama sekali.
                       “ memangnya bisa gak ganti?”Tanya Rain dengan lugu.
                       “ harus sebenarnya. Tapi yasudahla. Saya tidak mau terlibat cinta pandangan pertama.” Kata Pria itu dan membersihkan kameranya dengan sapu tangannya yang baru saja diambil dari sakunya.
                       “ anda kira , saya tertarik dengan anda?”
                       “ bukan. Coba pikirkan. Kalau kejadian seperti ini ilham nya kebelakang entar pasti jadi Kayak di film-film. Kenalan, terus janji gantiin barang yang rusak. Ketemuan terus-terusan, merasa ketiban sial setiap hari dan kemudian berbuntut-buntut memiliki masalah dengan orang yang sama dan akhirnya tak terselesaikan hingga melibatkan mereka harus bersama-sama terus membuat janji bla.bla.bla. terus nanti ada perpisahan ketika semuanya kelar, dan jadian….muncul perasaan.”kata Pria itu tepat dan pas juga selesai membersihkan kameranya. Rain masih saja terdiam dengan perkataan pria itu barusan.
                       “ gak usah mikir gimana cara gantinya. Saya maafkan. Permisi.” Kata Pria itu dan kemudian berlalu membelakangi Rain yang mengerutkan keningnya tak percaya dengan kejadian barusan.
&

           Acara itu akhirnya mulai dan rancangan itu selesai tepat setengah jam sebelum acara Fashion Show itu dimulai. Kampus mereka selalu membuat acara besar hingga sering menjadi bahan menarik di bahas dimajalah-majalah dunia. Rancangan-rancangan serta hasil karya lainnya dari kampus ini sudah sangat diperhitungkan di luar negri. Seharian ini Rain sangat letih karena membantu seniornya menyusun bahan tugas akhir Semester sekaligus menambah pengalaman buat dia. Rain berdiri sejenak di antara orang-orang yang memiliki jiwa pandang fashion yang bagus.
                       “ thanks Rain. Udah bantu kita. Jadi semuanya berjalan denganr lancer.” Kata Rey sambil melirik Rain dari sisik sudut mata nya.
                       “ yap. Aku juga merasa terhormat bisa membantu kakak-kakak seniorku. “ kata Rain sambil tersenyum tipis di balik balutan skiny jeans dan blazer kulit serta kaos oblong putih biasa dengan sedikit taburan permata di lehernya.
                       “ gimana dengan kejadian tadi sore? Pria itu meminta bayaran?”Tanya Rey dan kali ini berani menatapnya.
                       “ tidak. Dia acuh tak acuh kak. Aneh rasanya ada orang seperti itu. Padahal harga kamera itu kan mahal.”kata Rain tak habis piker.
                       “ bagi dia pasti tidak mahal.”kata Rey lagi.
                       “ dari mana kakak tau?”

                       “ karena dia tidak meminta ganti rugi. “ kata Rey lagi dan kemudian tersenyum tipis dan curi-curi pandang melihat tingkah Rain yang pasti sedang memikirkan dan menerka-nerka bahwa mungkin benar perkataan Rey barusan. 

to be  continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar