Acara
pagelaran akhir semester di kampus berjalan lancar. Tepat pukul 00.00 ditutup
dengan ribuan kembang api dan beberapa pernak-pernik pemeriah acara besar
seperti lampu neon dan lain-lain. Bagi Rain ini akan menjadi malam yang membutuhkan
istirahat yang exra. Masalahnya sehabis ini dia pasti akan kembali menjajali
dunia kesibukannya bermain dengan baju-baju rancangan para seniornya, mulai
merapikan hingga membungkusnya dan mengantarkannya ke laundry. Dengan cepat , dia segera menyeleksi beberapa baju dan
kemudian menyusunnya dengan rapi.
“ hei ain, kau tidak
pulang?” Tanya Prianka model tinggi sekaligus mahasiswi di kampus ini. Dia sudah
menjadi model Go Internasional beberapa model lainnya yang mengambil studi di
kampus ini.
“ belum kak, masih ada
beberapa kerjaan yang harus di bereskan nih..” kata Rain sambil menunjuk
beberapa rancangan yang siap untuk digantungkan.
“ bilang dong sama
seniornya, sama bagian panitia suapaya kamu di berikan keringanan.” Dalam batin
Rain , dia Cuma bisa berharap andaikan para Senior mendengar ucapan Prianka
saat ini. Andaikan orang-orang yang sedang lalu lalang sekarang disekitarnya
mendengar ucapan ini..andaikan…….
“ ya, udah resiko begini
kak..”kata Rain tak lupa dengan senyumnya.
“ wuahhh, salut deh sama
kamu ain. Kalau gitu aku pulang dulu ya.. jaga kesehatan” kata Prianka
menyentuh pundak Rain seakan mentransfer energy Prianka yang masih tersisa dari
langkahnya diatas saat runway tadi.
Buatnya semua ini bukan beban. Sudah sangat
bersyukur dia dibantu oleh senior-seniornya masuk ke Institut Art Indonesia. Bukan
hal yang mudah awalnya bergabung dan berteman dengan mereka. Rain menyukai
dunia fashion sama seperti mendiang
ibunya. Dia bertekad membawa nama harum ibunya kembali, setelah beberapa tahun
yang lalu perusahaan mereka gulung tikar. Membuatnya harus mempelajari hidup
dari bawah , menghadapi kehidupan social ditengah-tengah pergaulannya yang saat
itu dia akan menginjak bangku SMA. Awalnya dia minder dan pada akhirnya dia
dipertemukan dengan solusi baik dari seorang sahabatnya, Vivian.
“ jangan putus asa. Jangan
dengar apa kata mereka. Coba tutup telinga mu seperti ini..dan pejamkan matamu.”kata
Vivian sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya dan
kemudian memejamkan matanya. Saat itu mereka berada di halte depan sekolah. Lalu
lintas sangat padat, bahkan macet. Tak jarang motor berknalpot racing membuat
jiwa mereka terganggu dan sesekali harus membuat volume suara mereka keras.
Rain mengikuti Vivian.
“ anggap kamu lagi di
hujat , di caci maki ribuan orang, ditengah-tengah orang yang mem-bully kamu ain, …” kata Vivian. Rain membayangkannya, dia
memejamkan matanya dan kemudian mulai tertekan. Rasanya perih dan air matanya
mengalir lancar begitu saja.
“ sekarang tutup
telingamu dengan telapan tangan mu ain..” kata Vivian. Rain melakukannya. Selang
beberapa menit kemudian, Rain berkata..
“ begini lebih baik.. “
kata Rain dan membuka kedua matanya dan kemudian memeluk Vivian.
Rain membuka semua yang pernah
membuatnya nyaman dan tenang. Kini dia hampir meneteskan pilu.
“ kenapa bengong?” seru
Rey tiba-tiba.
“…” tak ada jawaban
membuat Rey khawatir.
“ kau sakit ain? Maaf
ka..”
“ tidak, aku baik-baik
saja. “kata Rain dan kemudian tersenyum.
“ hah! Disini kalian
rupanya. Besok pagi datang jam sepuluh, ke kampus. Kita dapat wawancara dari salah
satu majalah terkemuka.”kata Lidia, sang ketua Fashion Show.
“ dari majalah apa kak
?..” Tanya Rain.
“ aku berbicara pada Rey.
Bukan kau. Ingat Rey, jam sepuluh jika berhasil…kau akan mendapatkan apa yang
kita inginkan selama ini..”kata Lidia dan kemudian berlalu dengan senyum dari
bibirnya yang sensual dan berkedip sebelah mata memberikan kode. Kode apa itu? Apa
hubungan Rey dengan Lidia?
“ apa kalian punya janji
kencan?” Tanya Rain tersenyum dengan mata selidik.
“ tidak. Aku punya mimpi
yang sama dengan Lidia.”kata Rey.
“ ouh ya. Menikah..”kata
Rain kali ini senyumnya semakin melebar dan kemudian menatap dengan tatapan
meledek.
“ kenapa kau seperti itu
ain? ..” Tanya Rey kali ini menantang.
“ tidak…. Semoga berhasil”
bisik Rain dan kemudian pergi melewati Rey.
Rain
tersenyum berhasil meledek Rey yang tertangkap basah ternyata punya hubungan
khusus dengan atasan sekaligus seniornya itu. Lidia gadis yang sangat-sangat
jutek dan terkadang terkesan ganas. Penampilannya memang tertutup. Tapi tubuh
sensualnya mana bisa hilang. Dibalut pakaian setebal apapun , bentuknya tetap
indah. Maka dari itu , banyak pria melirik dan sesekali mengajaknya kencan. Tapi
kebanyakan menolak. Lidia mempunyai criteria tertentu untuk menjadi pasangan
kencannya. Hal itu pernah di katakannya saat Rain dan Lidia sedang
menyelesaikan suatu rancangan, hanya berdua dia Lab Desain.
“ Rain. Kemari..” seru
Lidia.
Ah! Pria itu lagi. Apa dia hendak
mengajak kencan Lidia juga, dia kan…
“ jadi dia bagian asisten
penanganan ini semua?”Tanya Pria itu sambil mengangkat satu alisnya.
“ iya. Dia asisten
terhebat sepanjang abad yang pernah aku miliki.”kata Lidia.
Ya, pujian yang kali ini
sangat-sangat berkesan bagi Rain dan paling sebentar lagi akan terhapus seiring
jalannya waktu dan munculnya lagi kemurkaan Lidia dengan alas an..
“
maaf. Hormone dari datang bulan…”
“
rain, dia ini kakakku. Alvin Sandi Tenorady Dia ini manager salah satu
perusahaan majalah PEOPLE di new York. Dia sekarang sedang magang di Indonesia
mengambil kuliah di Institut of Art di New York khusus photographer.” Kata Lidia.
“
dan. Seperti ku bilang, ini Rain Senja Pahyeti. Dia junior disini dan asisten
ku. “ kata Lidia.
“
hai, maaf soal kamera anda.” Kata Rain tertunduk dan tak berani menatap mata
tajam itu.
“
ha? Kamera? Tolong jelaskan ini.”
“
sudahlah. Masalah sudah selesai. Aku pulang. Aku ingin istirahat. Selamat atas
acara Fashion Show mu yang sukses besar.” Kata Sandi dan kemudian melewati
Rain. Seperti ada tanda rasa tidak suka Sandi terhadap dirinya.
“
awal perkenalan yang tragis buatmu ain..”kata Lidia dan kemudian
meninggalkannya di balik ribuan tanda Tanya yang sekarang muncul diatas
kepalanya. Pasti Lidia membencinya. Ah, bukannya Lidia sangat benci dengan Rain
dan hanya memanfaatkan ilmu kreatif dan sikap kritisnya ? memang.
to be continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar