Minggu, 01 September 2013

RAIN 2

Acara pagelaran akhir semester di kampus berjalan lancar. Tepat pukul 00.00 ditutup dengan ribuan kembang api dan beberapa pernak-pernik pemeriah acara besar seperti lampu neon dan lain-lain. Bagi Rain ini akan menjadi malam yang membutuhkan istirahat yang exra. Masalahnya sehabis ini dia pasti akan kembali menjajali dunia kesibukannya bermain dengan baju-baju rancangan para seniornya, mulai merapikan hingga membungkusnya dan mengantarkannya ke laundry. Dengan cepat , dia segera menyeleksi beberapa baju dan kemudian menyusunnya dengan rapi.
                       “ hei ain, kau tidak pulang?” Tanya Prianka model tinggi sekaligus mahasiswi di kampus ini. Dia sudah menjadi model Go Internasional beberapa model lainnya yang mengambil studi di kampus ini.
                       “ belum kak, masih ada beberapa kerjaan yang harus di bereskan nih..” kata Rain sambil menunjuk beberapa rancangan yang siap untuk digantungkan.
                       “ bilang dong sama seniornya, sama bagian panitia suapaya kamu di berikan keringanan.” Dalam batin Rain , dia Cuma bisa berharap andaikan para Senior mendengar ucapan Prianka saat ini. Andaikan orang-orang yang sedang lalu lalang sekarang disekitarnya mendengar ucapan ini..andaikan…….
                       “ ya, udah resiko begini kak..”kata Rain tak lupa dengan senyumnya.
                       “ wuahhh, salut deh sama kamu ain. Kalau gitu aku pulang dulu ya.. jaga kesehatan” kata Prianka menyentuh pundak Rain seakan mentransfer energy Prianka yang masih tersisa dari langkahnya diatas saat runway tadi.
           Buatnya semua ini bukan beban. Sudah sangat bersyukur dia dibantu oleh senior-seniornya masuk ke Institut Art Indonesia. Bukan hal yang mudah awalnya bergabung dan berteman dengan mereka. Rain menyukai dunia fashion sama seperti mendiang ibunya. Dia bertekad membawa nama harum ibunya kembali, setelah beberapa tahun yang lalu perusahaan mereka gulung tikar. Membuatnya harus mempelajari hidup dari bawah , menghadapi kehidupan social ditengah-tengah pergaulannya yang saat itu dia akan menginjak bangku SMA. Awalnya dia minder dan pada akhirnya dia dipertemukan dengan solusi baik dari seorang sahabatnya, Vivian.
                       “ jangan putus asa. Jangan dengar apa kata mereka. Coba tutup telinga mu seperti ini..dan pejamkan matamu.”kata Vivian sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya dan kemudian memejamkan matanya. Saat itu mereka berada di halte depan sekolah. Lalu lintas sangat padat, bahkan macet. Tak jarang motor berknalpot racing membuat jiwa mereka terganggu dan sesekali harus membuat volume suara mereka keras. Rain mengikuti Vivian.
                       “ anggap kamu lagi di hujat , di caci maki ribuan orang, ditengah-tengah  orang yang mem-bully kamu ain, …” kata Vivian. Rain membayangkannya, dia memejamkan matanya dan kemudian mulai tertekan. Rasanya perih dan air matanya mengalir lancar begitu saja.
                       “ sekarang tutup telingamu dengan telapan tangan mu ain..” kata Vivian. Rain melakukannya. Selang beberapa menit kemudian, Rain berkata..
                       “ begini lebih baik.. “ kata Rain dan membuka kedua matanya dan kemudian memeluk Vivian.
           Rain membuka semua yang pernah membuatnya nyaman dan tenang. Kini dia hampir meneteskan pilu.
                       “ kenapa bengong?” seru Rey tiba-tiba.
                       “…” tak ada jawaban membuat Rey khawatir.
                       “ kau sakit ain? Maaf ka..”
                       “ tidak, aku baik-baik saja. “kata Rain dan kemudian tersenyum.
                       “ hah! Disini kalian rupanya. Besok pagi datang jam sepuluh, ke kampus. Kita dapat wawancara dari salah satu majalah terkemuka.”kata Lidia, sang ketua Fashion Show.
                       “ dari majalah apa kak ?..” Tanya Rain.
                       “ aku berbicara pada Rey. Bukan kau. Ingat Rey, jam sepuluh jika berhasil…kau akan mendapatkan apa yang kita inginkan selama ini..”kata Lidia dan kemudian berlalu dengan senyum dari bibirnya yang sensual dan berkedip sebelah mata memberikan kode. Kode apa itu? Apa hubungan Rey dengan Lidia?
                       “ apa kalian punya janji kencan?” Tanya Rain tersenyum dengan mata selidik.
                       “ tidak. Aku punya mimpi yang sama dengan Lidia.”kata Rey.
                       “ ouh ya. Menikah..”kata Rain kali ini senyumnya semakin melebar dan kemudian menatap dengan tatapan meledek.
                       “ kenapa kau seperti itu ain? ..” Tanya Rey kali ini menantang.
                       “ tidak…. Semoga berhasil” bisik Rain dan kemudian pergi melewati Rey.
Rain tersenyum berhasil meledek Rey yang tertangkap basah ternyata punya hubungan khusus dengan atasan sekaligus seniornya itu. Lidia gadis yang sangat-sangat jutek dan terkadang terkesan ganas. Penampilannya memang tertutup. Tapi tubuh sensualnya mana bisa hilang. Dibalut pakaian setebal apapun , bentuknya tetap indah. Maka dari itu , banyak pria melirik dan sesekali mengajaknya kencan. Tapi kebanyakan menolak. Lidia mempunyai criteria tertentu untuk menjadi pasangan kencannya. Hal itu pernah di katakannya saat Rain dan Lidia sedang menyelesaikan suatu rancangan, hanya berdua dia Lab Desain.
                       “ Rain. Kemari..” seru Lidia.
           Ah! Pria itu lagi. Apa dia hendak mengajak kencan Lidia juga, dia kan…
                       “ jadi dia bagian asisten penanganan ini semua?”Tanya Pria itu sambil mengangkat satu alisnya.
                       “ iya. Dia asisten terhebat sepanjang abad yang pernah aku miliki.”kata Lidia.
Ya, pujian yang kali ini sangat-sangat berkesan bagi Rain dan paling sebentar lagi akan terhapus seiring jalannya waktu dan munculnya lagi kemurkaan Lidia dengan alas an..
                        “ maaf. Hormone dari datang bulan…”
                        “ rain, dia ini kakakku. Alvin Sandi Tenorady Dia ini manager salah satu perusahaan majalah PEOPLE di new York. Dia sekarang sedang magang di Indonesia mengambil kuliah di Institut of Art di New York khusus photographer.” Kata Lidia.
                        “ dan. Seperti ku bilang, ini Rain Senja Pahyeti. Dia junior disini dan asisten ku. “ kata Lidia.
                        “ hai, maaf soal kamera anda.” Kata Rain tertunduk dan tak berani menatap mata tajam itu.
                        “ ha? Kamera? Tolong jelaskan ini.”
                        “ sudahlah. Masalah sudah selesai. Aku pulang. Aku ingin istirahat. Selamat atas acara Fashion Show mu yang sukses besar.” Kata Sandi dan kemudian melewati Rain. Seperti ada tanda rasa tidak suka Sandi terhadap dirinya.

                        “ awal perkenalan yang tragis buatmu ain..”kata Lidia dan kemudian meninggalkannya di balik ribuan tanda Tanya yang sekarang muncul diatas kepalanya. Pasti Lidia membencinya. Ah, bukannya Lidia sangat benci dengan Rain dan hanya memanfaatkan ilmu kreatif dan sikap kritisnya ? memang.

to be continue 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar