Untuk mu..
Dari Ketulusan hatiku..
Kau
tau semilir angin sedang tak bertiup hari ini. cuaca pun tak menunjukkan
keseriusannya. Semenjak memasuki bulan oktober sejenak aku merasakan jenuh tapi
tetap didalam teduh. Jenuh itu karena aku merasakan banyak spasi diantara kita.
Sama seperti jarak yang berusaha kita minimize sekarang. Yang kusadari selama
beberapa bulan ini adalah aku menyianyiakan perhatian mu, dalam mineset ku
adalah, karena kau cuek maka aku juga seperti itu.
Teduh
itu saat aku bisa merasakan ketulusanmu. Teduh itu ada disaat aku mengingat
kembali janjimu, bagaimana dirimu memperlakukanku dulu. Manis, sopan, lucu,
penuh dengan canda. Aku mengecewakanmu beberapa kali dan kau tetap menganggap
ku bahwa “aku yang terbaik dalam
hidupmu.” Aku tak tau itu benar atau
tidak…..
Jenuh
itu disaat aku mengetahui bahwa banyaknya aku membuat mu kecewa, kau
menghitungnya hingga aku kaku dan takut berbuat kesalahan lagi. Hingga aku
bodoh menahan semua kerinduanku yang harusnya kuluapkan tapi aku tak punya
nyali. Ya, akhir-akhir ini aku tak memiliki nyali, semangat, dan hobiku menyendiri. Bibir ini tertawa, suara
ini riang menyambut hari , tapi hati ku? …….
Teduh
disaat kau meyakinkan ku, disaat kau membuat semuanya seakan indah, disaat kau
kembali menggenggam ku, mengucapkan “percayalah
semuanya akan baik-baik saja” kau
selalu menang. Dan aku dengan lugunya berpikir, “dia benar serahkan saja semuanya kepada Tuhan.” Hingga aku
membawanya dalam doa.
Jenuh
saat aku harus menunggu mu, menghapus semua pikiran negative ku jika kau tak
memberiku kabar. Kau tak pernah tau, pernah suatu hari sehabis pulang kuliah
tepat pukul setengah tujuh malam, karena rindu ini tak terbendung lagi, aku
pulang melewati jalan biasa engkau pulang kuliah dulu. Aku melewati komplek
perumahan mu dan memutar lagu itu.
Teduh.
Nyaris tak ada teduh. Tapi kau selalu meyakinkan ku…
Jenuh.
Disaat semuanya bertanya, “Kenapa kau begitu sabar menghadapinya? Lihat
perlakuannya” aku hanya tersenyum. “ apa kau nyaman bersamanya?” “cukup hanya aku dan Tuhan yang tau…. “
hampir meneteskan pilu.
Menyerah.
Aku beberapa kali berpikir seperti itu, tapi melihat perjuanganmu, melihat
semua upayamu.. aku iri. Kau bisa kenapa aku tidak?.
Aku
memang pecemburu. Melihat semua sikap mu dengan wanita terkadang aku sakit
hati. Tapi apa yang aku lakukan? Aku hanya menutup mata dan meyakinkan diri
sendiri “cinta dan sayangnya yang sebenarnya hanya untukmu…” dan aku
pasrah. Terkadang aku tertawa melihat teman-teman ku yang berkata “jika aku
menjadi dirimu, aku mungkin sudah marah besar dan aku mungkin sudah mengakhiri
hubungan.”, kalian tak tau kalau dia yang
ku cintai sekarang adalah hasil dari doaku selama setahun lebih. Dia sudah lama
kutunggu.. jika kalian melalui semuanya sama seperti ku, kalian juga tidak akan
menyianyiakannya. Karena entah kenapa … semenjak aku mengenalnya aku berusaha
menghargai waktu yang sudah diberikan Tuhan kepadaku. Dan setelah itu , aku
hanya bisa menangis….kenapa aku menangis? Karena bagiku kau berharga. Aku
menghargaimu, aku mendengarkan semua apa yang kau ceritakan. Meskipun semuanya
tidak menarik, tapi aku berusaha menjadi tempat curhat yang baik juga. Aku
menerima keluh kesahmu, sikapmu yang terkadang brengsek kepadaku dengan tulus.
Aku tau kau lelah, aku bersedia menjadi tempat lelahmu, tempat pengaduanmu
selain kau mengadu kepada Tuhan.
Untukmu.. dariku.
Dear my
love ..
Jika suatu hari nanti kau tak bisa
melihatku,merasakan bibirku,merasakan detak jantungku,merasakan hangatnya
pelukanku, merasakan eratnya genggaman tanganku, melihat senyumku, melihat
jatuhnya air mataku secara langsung, mendengarkan suaraku, melewati hari baik
suka dan duka bersama ku kelak, Percayalah
cinta ini dan seluruh perasaan ini hanya untukmu dan pernah menjadi milikmu. Ingatlah
aku dan hapus setiap momen indah, kata-kata indah yang pernah kita buat.
Hapus kenangan itu dan yang ku inginkan “belajarlah dari apa yang sudah kita lalui bersama.”
Love.you.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar