“THE BEGINING”
Jarinya menari indah di antara senar gitar, memetik
dan melantunkan sebuah nada indah terdengar. Mengisi ruang hampa yang bergaya
klasik dan kuno. Bersentuhan dengan nilai estetika keindahan yang tinggi. Nada
itu tiba-tiba berakhir dan kemudian riuh tepuk tangan penonton serta senyum
puas terpancar. Antusias setiap penonton memberikan dia semangat yang semakin
berkobar hingga dia tersadar baru saja dia mimpi.
FUCK ITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!
Suara klakson dari
kereta bawah tanah yang di naikinya membangunkannya dari ribuan mimpi indah
selama dua jam lebih tertata rapi di benaknya menyisakan sebuah penglihatan
yang semu.
“ hufttt. “ desahnya menghela nafas
sejenak.
Dia mencari benda
penghitung waktu dari dalam tas tangannya. Tak kunjung mendapatkan apa yang
dicari, segera di awasinya seseorang yang memakai jam tangan.
“ permisi ,..tuan. maaf.sekarang sudah
jam berapa?”Tanyanya sopan.
“ jam tujuh lewat delapan malam.” Kata
orang tua yang sudah memasuki usia senja tersebut.
Setengah jam lagi dia akan memasuki kota
terpadat di dunia, New York. Setelah berdebat hebat dengan suara-suara berisik
kereta bawah tanah, dia keluar dari terowongan remang-remang itu dengan mantel
merah maroon yang di belinya di salah
satu butik ternama di Kentucky. Sepatu boots
hitamnya yang sudah kusam dan kaus kaki warna hitam dan di balut dengan stocking begitulah penampilannya
sekarang saat memasuki gedung berlantai-lantai dan menjadi tempat bernaung
sementara untuk hidup selama menjelajah di New York. Kota itu begitu sunyi
ketika malam hari. Hanya ada beberapa aktifitas malam yang berbau negative yang
terpampang di mata bulatnya. Sampailah dia di komplek perumahan khusus untuk
orang-orang Indonesia.
Kakinya terhenti merasakan bunyi suara
telap kaki lain di belakangnya. Dan, tebakannya tepat.
“ kapan kau datang? Kenapa tidak
meneleponku?” Tanya pria sebayannya sambil menggerakkan ponselnya. Gadis itu
berlari kecil dan kemudian memeluknya.
“ aku merindukanmu sobat..”kata pria
itu.
“ aku juga.” Balasnya.
“ hem..sudah berapa lama aku tidak
melihatmu ya? Empat tahun? Sepuluh tahun?” goda pria itu.
“ sudahlah kak. Aku lelah untuk
menanggapi senyum jailmu.” Kata gadis itu dengan wajah letihnya.
“ ayo masuk. Tante sudah menunggu mu
dari tadi. Ada paman Joy dan oma Ana di dalam.” Kata pria itu dan menarik
lengan gadis itu.
_T_
“ bisa aku menambah minumanku”kata
wanita tua itu di kursi malasnya.
“ oma.. sudah jangan banyak
minum.”kata wanita yang ada disampingnya. Dia adalah anak tertua di keluarga Owlen.
“ hei lihat siapa yang datang!” pekik
Hana gadis remaja yang sekarang duduk di bangku SMP.
“ Rain…!!” pekik orang-orang yang ada
didalam.
Si pemilik nama segera terkejut dengan
keramaian yang ada didalam rumah. Dia tidak pernah menyangka kalau ibunya akan
membuat pesta penyambutannya sebesar ini. Bagi Rain jika semua keluarga
berkumpul, pasti ada pesta besar.
“hai Hana apa kabar?” sambut Rain.
“ hai oma apa kabar? Aku sangat
merindukanmu.”kata Rain sambil memeluk wanita paruh baya itu yang masih bermalas-malasan
di kursi kesayangannya.
“ hai mom.. aku pulang.”kata Rain dan
ibunya memeluknya dengan erat. Begitu juga dengan kerabat yang lainnya.
“ hai rain. Kau pulang..” suara berat
itu membuatnya terkejut. Dia tidak menyangka, Rick kakaknya yang sudah lima
tahun lebih tidak ditemuinya, Rick yang sangat menyebalkan,Rick yang selalu
membuatnya susah jika mereka bertemu di jam makan siang waktu SD dulu kini
berdiri di hadapannya dengan perubahan yang besar. Tubuhnya semakin kekar dan
dadanya lebar dan kokoh tumbuh bersama rahangnya yang terbentuk sempurna. Rain
segera memeluk tubuh besar tinggi itu dengan erat seperti memeluk disaat
terakhirnya harus berpisah dengan Rick waktu dia akan memulai pendidikannya di
Kentucky.
“ aku senang kau datang..”kata Rain
dengan nanar.
Rick mengelus rambut adik bungsunya ini di
ikuti senyum dan haru dari ibunya. Semenjak perceraian ibu dan ayahnya, Rick
jarang pulang kerumah. Dia hanya tinggal dengan kakak tertua nomor duanya. Ada
atau tidak ada Rick dirumah sebenarnya tidak terlalu berpengaruh, tapi bagi
Rain kelengkapan itu penting.
“ kemarilah, aku ingin mendengarkan
cerita dari Kentucky.”kata Rick membawanya ke ruang santai tak jauh dari ruang
berkumpulnya kerabat lain.
“ aku heran, kenapa semua kerabat datang?”Tanya
Rain sambil menerima wine dari
Robert.
“ yah, sebenarnya ada tujuan lain dari
ini.”kata Robert kemudian mereka bertiga bersulang.
“ so..
apa yang disembunyikan dua pemuda tampan ini sekarang?”Tanya Rain menatap
Robert dan Rick bergantian.
“ Robert akan menikah.”kata Rick
sambil tersenyum.
Rain yang saat itu sedang
santainya duduk sambil menenggak wine
tiba-tiba sontak terduduk dengan matanya membesar kemudian batuk-batuk karena
cairan itu masuk secara tidak teratur melalui tenggorokannya. Rick dengan cepat
memukul lembut punggung mungil Rain.
“
kau tidak berubah ain..”kata Robert terkekeh geli melihat reaksi spontan
adiknya.
“
ba..bagaimana bisa kau menemukan pasangan hidup?”Tanya Rain masih berusaha
mencari pernapasannya.
“
apa maksudmu? Mentang-mentang tampang rick lebih menggoda jadi aku tidak boleh
menikah cepat?”Tanya Robert semakin melebarkan senyumnya di iringi kedua
giginya yang tersusun rapi. Robert adalah seorang dokter gigi di London.
“bukan
begitu maksudku. Aku rasa Rick lebih dulu tunangan dulu.. sementara kau ..”
Rain tiba-tiba berhenti berusaha mengolah keadaan yang masih belum dia
mengerti.
“
kenapa ain?” Tanya Rick menatap ekspresi Rain penuh selidik.
“
apa calon kakak iparku hamil duluan?”Tanya Rain berbisik pelan.
“
siapa yang hamil?” suara itu membuyarkan lingkaran kepala mereka yang tadi
sempat merapat. Berdiri di hadapan Rain sekarang gadis dengan tinggi kira-kira
170 dengan heels 5 cm memakai setelan
musim dingin dari DIOR, rambut sebahu
ikal.
“
siapa yang hamil?”Tanya gadis itu semakin penasaran. Dia memandang Rain
lekat-lekat dan melihat kedekatan Robert yang begitu dekat dengan Rain hingga
memegang punggung tangan gadis yang usianya jauh lebih muda darinya.
“
hei laura…”sapa Rick berusaha mencairkan suasana.
“
rain, kenalkan. Ini calon istriku. Laura.”kata Robert berdiri melingkarkan
tangannya kepinggang Laura yang ramping. Sempat Rain menebak-nebak berapa
ukuran pinggang ramping nyaris sempurna itu?
“
hai.. aku Rain. Rain Owlen.”sapanya dengan senyum termanisnya.
“
aku Laura Wijaya. Kau adik Robert yang paling bungsu?”Tanya Laura yang mulai
ramah.
“
iya… maaf aku mengira tadi kau hamil. Makanya kak Robert mau menikahi mu.”kata
Rain dengan polos. Rick yang mendengarnya gemas dengan sikap Rain yang terlalu
polos.
“
hahahaha, kau lucu Rain. Aku masih perawan. Apa perutku terlihat buncit?”Tanya
Laura mulai meminta pendapat. Robert tak ingin menciptakan sebuah lingkaran
percakapan khusus wanita dengan cepat dia menarik Laura mengatakan embel-embel
ingin mengajaknya dansa karena kebetulan paman Joy memainkan piano dengan music
klasik ala 80’an.
_T_
Matanya
masih ingin tertutup. Tapi dia mulai tidak tahan dengan sinar matahari yang
melasernya habis-habisan dari luar. Dengan cepat dan gerutuan panjang dia
menuju jendela dan kemudian menutup tirainya. Dia merasa sial, karena tadi
malam harus tertidur disofa mendengar Bibi joy menyanyikan lagu jazz dengan
piano yang dimainkan paman Joy. Bibi Joy pernah masuk ke sekolah seni di New
York dan beberapa lama kemudian dia membuka les Vokal yang sempat juga di
geluti Rain. Tapi sayang setelah sekian lama, tempat Vokal itu tutup dan
sekarang berganti dengan Café santai yang banyak di geluti para remaja
seusianya.
Dia
kembali ketempat tidurnya dengan piama orange terang dan kemudian menutup
matanya dengan kacamata tidurnya. Saat akan menarik selimut, tiba-tiba ketukan
pintu membuyarkan kelanjutan mimpinya.
Tokk…Tok..Tok….!!
“
ya! Apa?!” seru Rain dengan keadaan setengah sadar.
“
astaga. Kau bau alcohol sayang. Berapa banyak Rick menyuruh mu meneguk minuman?
Cepat segera mandi, ganti pakaian . mom tunggu sepuluh menit lagi dibawah.20
menit lagi acara sarapan pagi bersama dengan keluarga Wijaya dan keluarga
Wolfen akan segera dimulai. Gunakan dress
warna peach yang ada di lemari sudah
mom sediakan. Love you my little cute
girl.”Mom meninggalkan sebuah kecupan kesadaran di pipi Rain. Dengan cepat
dia menarik handuk lalu masuk ke dalam toilet. Beberapa lama kemudian dia
keluar memakai jubah mandinya. Dia menyisir rambutnya seketika mencerna sekali
lagi perkataan ibunya didepan pintu.
“
apa tadi ibu mengatakan keluaga wijaya? Berarti … keluarga calon istri kak
Robert akan segera datang. Hah! Aku benci sarapan pagi keluarga.” Gumamnya. Dia
beranjak ke lemari dan mendapati gaun yang dikatakan ibunya. Dengan cepat dia
masukkan ketubuh mungilnya lalu di tatanya sedikit rambutnya dengan French hair. Yang dia butuhkan dari tadi
adalah, udara segar dan sinar matahari. Dengan cepat dia membuka tirainya.
Sesaat dia memandang ke arah depan pemandangannya. Ada beberapa atap rumah di
komplek perumahan tersebut dan di belakangnya sebuah bukit dan ada peternakan
kuda.
Kemudian
dia mengarahkan kedua bola mata coklatnya ke bawah. Dia berjalan perlahan ke
balkon dan kemudian melihat keluarga wijaya turun satu persatu dari mobil mewah
berwarna putih. Yang benar saja mereka
menggunakan mobil itu. Hah dasar payah!. Saat asyik dengan
komentar-komentar dalam hatinya, dia kemudian melihat sedan merah memasuki
pekarangan rumahnya.
Sepertinya aku kenal
mobil itu..tapi dimana?...
to be continue