Sabtu, 16 November 2013

Owl and Wolf 3

Semuanya berkumpul di ruang makan menikmati hidangan yang sudah di suguhkan. Ada roti bakar, bacon, orak-arik telur, teh inggris, kopi luwak yang dipesan khusus oleh Wijaya sebagai hadiah untuk keluaga Owlen, pudding coklat di taburi fla vanilla ada brownis dan juga tidak ketinggalan tiramisu cheesecake kesukaan Rain. Garpu, dan gesekan pisau yang menggesek piring menjadi pengisi suara di sela-sela pembicaraan dari ketiga keluarga besar ini. Dia heran dan dia tidak pernah tau kalau Tyo bisa berbicara sedewasa ini. Miranda kakaknya yang menyebalkan itu sesekali ikut tertawa dan tawanya terlalu renyah. Rick hanya tersenyum tipis dan Robert dari tadi sibuk dengan punggung tangan Laura Wijaya.
     Rain bingung, sandiwara apa yang harus dia lakukan mengisi kekosongan kegiatan sampingan di meja makan tersebut. Dia ingin menimpali perkataan antara ibunya, tante Farah, om Gideon, Tante Wendi dan om Ferdi serta bekicot kecil Tyo.
           “ ehem. Jadi bagaimana dengan gadis pendiam kita ini? “ Tanya Om Ferdi wijaya tiba-tiba.
           “ kau semakin dewasa dalam berpenampilan rain.. sepertinya kentucky memberikanmu banyak pelajaran.” Kata tante Farah tersenyum lembut. Apa ini ciri khas keluarga Wolfen?  Batinnya.
           “ terima kasih. Lingkungan disana betul-betul berbeda jauh disini. Sebenarnya disana lebih liar. Maksudku pergaulannya. Tapi, yah seperti ikan salmon. Harus melawan arus jika ingin menjadi yang terbaik.” Suara tawa dan juga senyum serta pujian, cukup membangunkan senyum manis Rain.
           “ kau memang sudah dewasa. Kau pintar berbicara. “ timpal Gideon.
           “ ayolah, gadis kecil tidak selamanya manis bukan? Aku sudah 20 tahun .” kata Rain sambil terkekeh. Semuanya tertawa, kecuali Tyo.
           “ lalu bagaimana dengan Pras?” Tanya om Ferdi lagi.

           “ pras.. ya. Kalian tau bagaimana dia. Semenjak tidak dituruti berkuliah di L.A dia menjadi diam dingin seperti ini. tapi dia tidak jauh beda dengan Rain. Dia semakin dewasa dan juga semakin bijak dalam situasi. Bagaimana pria yang beranjak dewasa seperti itulah dia.”kata Gideon dan kemudian semuanya melontarkan senyum puas sekaligus kagum. Rain mendengus seakan mengatakan hah! Basi…padahal om Gideon tidak tau sikap anaknya dimasa SMA dulu. Bahkan saat tim universitasnya bertandang ke Kentucky! Dia sempat menggoda dosen yang dikiranya siswa. Kurang ajar. Batinnya. 


to be continue :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar