Jumat, 15 November 2013

OWL AND WOLF

“THE BEGINING”


     Jarinya menari indah di antara senar gitar, memetik dan melantunkan sebuah nada indah terdengar. Mengisi ruang hampa yang bergaya klasik dan kuno. Bersentuhan dengan nilai estetika keindahan yang tinggi. Nada itu tiba-tiba berakhir dan kemudian riuh tepuk tangan penonton serta senyum puas terpancar. Antusias setiap penonton memberikan dia semangat yang semakin berkobar hingga dia tersadar baru saja dia mimpi.
     FUCK ITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!
Suara klakson dari kereta bawah tanah yang di naikinya membangunkannya dari ribuan mimpi indah selama dua jam lebih tertata rapi di benaknya menyisakan sebuah penglihatan yang semu.
          “ hufttt. “ desahnya menghela nafas sejenak.
Dia mencari benda penghitung waktu dari dalam tas tangannya. Tak kunjung mendapatkan apa yang dicari, segera di awasinya seseorang yang memakai jam tangan.
          “ permisi ,..tuan. maaf.sekarang sudah jam berapa?”Tanyanya sopan.
          “ jam tujuh lewat delapan malam.” Kata orang tua yang sudah memasuki usia senja tersebut.
     Setengah jam lagi dia akan memasuki kota terpadat di dunia, New York. Setelah berdebat hebat dengan suara-suara berisik kereta bawah tanah, dia keluar dari terowongan remang-remang itu dengan mantel merah maroon yang di belinya di salah satu butik ternama di Kentucky. Sepatu boots hitamnya yang sudah kusam dan kaus kaki warna hitam dan di balut dengan stocking begitulah penampilannya sekarang saat memasuki gedung berlantai-lantai dan menjadi tempat bernaung sementara untuk hidup selama menjelajah di New York. Kota itu begitu sunyi ketika malam hari. Hanya ada beberapa aktifitas malam yang berbau negative yang terpampang di mata bulatnya. Sampailah dia di komplek perumahan khusus untuk orang-orang Indonesia.
     Kakinya terhenti merasakan bunyi suara telap kaki lain di belakangnya. Dan, tebakannya tepat.
          “ kapan kau datang? Kenapa tidak meneleponku?” Tanya pria sebayannya sambil menggerakkan ponselnya. Gadis itu berlari kecil dan kemudian memeluknya.
          “ aku merindukanmu sobat..”kata pria itu.
          “ aku juga.” Balasnya.
          “ hem..sudah berapa lama aku tidak melihatmu ya? Empat tahun? Sepuluh tahun?” goda pria itu.
          “ sudahlah kak. Aku lelah untuk menanggapi senyum jailmu.” Kata gadis itu dengan wajah letihnya.
          “ ayo masuk. Tante sudah menunggu mu dari tadi. Ada paman Joy dan oma Ana di dalam.” Kata pria itu dan menarik lengan gadis itu.
_T_

          “ bisa aku menambah minumanku”kata wanita tua itu di kursi malasnya.
          “ oma.. sudah jangan banyak minum.”kata wanita yang ada disampingnya. Dia adalah anak tertua di keluarga Owlen.
          “ hei lihat siapa yang datang!” pekik Hana gadis remaja yang sekarang duduk di bangku SMP.
          “ Rain…!!” pekik orang-orang yang ada didalam.
     Si pemilik nama segera terkejut dengan keramaian yang ada didalam rumah. Dia tidak pernah menyangka kalau ibunya akan membuat pesta penyambutannya sebesar ini. Bagi Rain jika semua keluarga berkumpul, pasti ada pesta besar.
          “hai Hana apa kabar?” sambut Rain.
          “ hai oma apa kabar? Aku sangat merindukanmu.”kata Rain sambil memeluk wanita paruh baya itu yang masih bermalas-malasan di kursi kesayangannya.
          “ hai mom.. aku pulang.”kata Rain dan ibunya memeluknya dengan erat. Begitu juga dengan kerabat yang lainnya.
          “ hai rain. Kau pulang..” suara berat itu membuatnya terkejut. Dia tidak menyangka, Rick kakaknya yang sudah lima tahun lebih tidak ditemuinya, Rick yang sangat menyebalkan,Rick yang selalu membuatnya susah jika mereka bertemu di jam makan siang waktu SD dulu kini berdiri di hadapannya dengan perubahan yang besar. Tubuhnya semakin kekar dan dadanya lebar dan kokoh tumbuh bersama rahangnya yang terbentuk sempurna. Rain segera memeluk tubuh besar tinggi itu dengan erat seperti memeluk disaat terakhirnya harus berpisah dengan Rick waktu dia akan memulai pendidikannya di Kentucky.
          “ aku senang kau datang..”kata Rain dengan nanar.
     Rick mengelus rambut adik bungsunya ini di ikuti senyum dan haru dari ibunya. Semenjak perceraian ibu dan ayahnya, Rick jarang pulang kerumah. Dia hanya tinggal dengan kakak tertua nomor duanya. Ada atau tidak ada Rick dirumah sebenarnya tidak terlalu berpengaruh, tapi bagi Rain kelengkapan itu penting.
          “ kemarilah, aku ingin mendengarkan cerita dari Kentucky.”kata Rick membawanya ke ruang santai tak jauh dari ruang berkumpulnya kerabat lain.
          “ aku heran, kenapa semua kerabat datang?”Tanya Rain sambil menerima wine dari Robert.
          “ yah, sebenarnya ada tujuan lain dari ini.”kata Robert kemudian mereka bertiga bersulang.
          “ so.. apa yang disembunyikan dua pemuda tampan ini sekarang?”Tanya Rain menatap Robert dan Rick bergantian.
          “ Robert akan menikah.”kata Rick sambil tersenyum.
Rain yang saat itu sedang santainya duduk sambil menenggak wine tiba-tiba sontak terduduk dengan matanya membesar kemudian batuk-batuk karena cairan itu masuk secara tidak teratur melalui tenggorokannya. Rick dengan cepat memukul lembut punggung mungil Rain.
           “ kau tidak berubah ain..”kata Robert terkekeh geli melihat reaksi spontan adiknya.
           “ ba..bagaimana bisa kau menemukan pasangan hidup?”Tanya Rain masih berusaha mencari pernapasannya.
           “ apa maksudmu? Mentang-mentang tampang rick lebih menggoda jadi aku tidak boleh menikah cepat?”Tanya Robert semakin melebarkan senyumnya di iringi kedua giginya yang tersusun rapi. Robert adalah seorang dokter gigi di London.
           “bukan begitu maksudku. Aku rasa Rick lebih dulu tunangan dulu.. sementara kau ..” Rain tiba-tiba berhenti berusaha mengolah keadaan yang masih belum dia mengerti.
           “ kenapa ain?” Tanya Rick menatap ekspresi Rain penuh selidik.
           “ apa calon kakak iparku hamil duluan?”Tanya Rain berbisik pelan.
           “ siapa yang hamil?” suara itu membuyarkan lingkaran kepala mereka yang tadi sempat merapat. Berdiri di hadapan Rain sekarang gadis dengan tinggi kira-kira 170 dengan heels 5 cm memakai setelan musim dingin dari DIOR, rambut sebahu ikal.
           “ siapa yang hamil?”Tanya gadis itu semakin penasaran. Dia memandang Rain lekat-lekat dan melihat kedekatan Robert yang begitu dekat dengan Rain hingga memegang punggung tangan gadis yang usianya jauh lebih muda darinya.
           “ hei laura…”sapa Rick berusaha mencairkan suasana.
           “ rain, kenalkan. Ini calon istriku. Laura.”kata Robert berdiri melingkarkan tangannya kepinggang Laura yang ramping. Sempat Rain menebak-nebak berapa ukuran pinggang ramping nyaris sempurna itu?
           “ hai.. aku Rain. Rain Owlen.”sapanya dengan senyum termanisnya.
           “ aku Laura Wijaya. Kau adik Robert yang paling bungsu?”Tanya Laura yang mulai ramah.
           “ iya… maaf aku mengira tadi kau hamil. Makanya kak Robert mau menikahi mu.”kata Rain dengan polos. Rick yang mendengarnya gemas dengan sikap Rain yang terlalu polos.
           “ hahahaha, kau lucu Rain. Aku masih perawan. Apa perutku terlihat buncit?”Tanya Laura mulai meminta pendapat. Robert tak ingin menciptakan sebuah lingkaran percakapan khusus wanita dengan cepat dia menarik Laura mengatakan embel-embel ingin mengajaknya dansa karena kebetulan paman Joy memainkan piano dengan music klasik ala 80’an.
_T_

     Matanya masih ingin tertutup. Tapi dia mulai tidak tahan dengan sinar matahari yang melasernya habis-habisan dari luar. Dengan cepat dan gerutuan panjang dia menuju jendela dan kemudian menutup tirainya. Dia merasa sial, karena tadi malam harus tertidur disofa mendengar Bibi joy menyanyikan lagu jazz dengan piano yang dimainkan paman Joy. Bibi Joy pernah masuk ke sekolah seni di New York dan beberapa lama kemudian dia membuka les Vokal yang sempat juga di geluti Rain. Tapi sayang setelah sekian lama, tempat Vokal itu tutup dan sekarang berganti dengan Café santai yang banyak di geluti para remaja seusianya.
     Dia kembali ketempat tidurnya dengan piama orange terang dan kemudian menutup matanya dengan kacamata tidurnya. Saat akan menarik selimut, tiba-tiba ketukan pintu membuyarkan kelanjutan mimpinya.
     Tokk…Tok..Tok….!!
           “ ya! Apa?!” seru Rain dengan keadaan setengah sadar.
           “ astaga. Kau bau alcohol sayang. Berapa banyak Rick menyuruh mu meneguk minuman? Cepat segera mandi, ganti pakaian . mom tunggu sepuluh menit lagi dibawah.20 menit lagi acara sarapan pagi bersama dengan keluarga Wijaya dan keluarga Wolfen akan segera dimulai. Gunakan dress warna peach yang ada di lemari sudah mom sediakan. Love you my little cute girl.”Mom meninggalkan sebuah kecupan kesadaran di pipi Rain. Dengan cepat dia menarik handuk lalu masuk ke dalam toilet. Beberapa lama kemudian dia keluar memakai jubah mandinya. Dia menyisir rambutnya seketika mencerna sekali lagi perkataan ibunya didepan pintu.
           “ apa tadi ibu mengatakan keluaga wijaya? Berarti … keluarga calon istri kak Robert akan segera datang. Hah! Aku benci sarapan pagi keluarga.” Gumamnya. Dia beranjak ke lemari dan mendapati gaun yang dikatakan ibunya. Dengan cepat dia masukkan ketubuh mungilnya lalu di tatanya sedikit rambutnya dengan French hair. Yang dia butuhkan dari tadi adalah, udara segar dan sinar matahari. Dengan cepat dia membuka tirainya. Sesaat dia memandang ke arah depan pemandangannya. Ada beberapa atap rumah di komplek perumahan tersebut dan di belakangnya sebuah bukit dan ada peternakan kuda.
     Kemudian dia mengarahkan kedua bola mata coklatnya ke bawah. Dia berjalan perlahan ke balkon dan kemudian melihat keluarga wijaya turun satu persatu dari mobil mewah berwarna putih. Yang benar saja mereka menggunakan mobil itu. Hah dasar payah!. Saat asyik dengan komentar-komentar dalam hatinya, dia kemudian melihat sedan merah memasuki pekarangan rumahnya.

           Sepertinya aku kenal mobil itu..tapi dimana?...

to be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar