Jumat, 15 November 2013

OWL and Wolf

Sebuah keluarga lengkap dengan suami, istri dan dua orang anak yang masing-masing wanita dan pria keluar dari bagian belakang. Membalas salam hangat dari keluarga owlen dan wolfen. Lalu kemudian di ikuti dengan salam akrab khas ala pria macho di belakangnya. Rain makin betah memandang keharmonisan tiga keluarga yang ada didepannya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kebiasaan ibunya yang selalu lebih asyik dan hingga terbuai berbicara diluar, lupa mempersilahkan masuk tamunya sekalipun itu presiden.kurasa. Tiba-tiba pria yang datang dengan keluarga Wolfen memandang keatas dengan tatapan dingin lalu melihat gadis bergaun warna peach memandangi mereka.
           “ ayo masuk. Aku yakin kalian sudah lapar dengan perjalanan jauh yang kalian alami. Ayo..Farah, Gideon wolfen.”kata Ria kepada kedua sahabat lamanya itu.
     Mereka masuk dan segera Rain turun kebawah. Dia tidak ingin di omeli. Perlahan menyusuri anak tangga dan kemudian masih seperti kejadian di luar pekarangan rumahnya, mereka tetap bertukar salam hangat kemudian ramah kepada Oma yang hari ini tampak lebih segar setelah meminum lima botol bir rendah alcohol. Oma hari ini sangat berkilau dengan setelan ala senator wanita dengan warna soft orange dan kemudian lipstick merah pucat dan sedikit eyeshadow dan blushon tipis cukup untuk membuatnya tampak muda.
     Oma bukan seperti Oma atau nenek-nenek yang lainnya. Dia masih tegap berdiri dengan rambut colanya yang ikal dan matanya hijaunya. Umurnya 59 tahun dengan senyum dan gigi putih rata yang masih utuh.
           “ hei.. putri kecilku…” seru ibu menyambutku dengan antusias. Dengan cepat tante Farah dan om Gideon melirik kearahku dan tersenyum seakan melihat berliat langka yang muncul di hadapan mereka. Begitu juga dengan keluarga wijaya.
           “ hai rain. Apa kau masih mengingatku?”Tanya gadis itu melangkah dengan pasti merentangkan tangannya dibalik gaun vintage berwarna biru tua yang membuat kulitnya tampak lebih kontras dan mempesona. Dia lebih tinggi dibandingkan Rain.
           “ hahaha, tentu saja.kau gadis yang menghancurkan mental rick…” batinnya sesaat.
           “ kau jauh lebih cantik sekarang. “katanya memuji. Cih! Senyumnya tetap sama seperti Rain pertama kali di perkenalkan oleh Rick. Saat itu, Rick dan Miranda sedang berada di restoran Itali. Rain yang saat itu sedang menjadi teman kencan Sebastian Orlando, melihat Rick kakaknya mencium mesra Miranda. Miranda waktu itu sedang duduk di bangku SMP sementara Rick SMA. Takut ketahuan oleh sang ibu, Rain mengancam hingga akhirnya dia terpaksa memperkenalkan Miranda pada Rain. Hubungan Rick berlangsung lama hingga akhirnya masa-masa backstreetnya tercium ibunya. Mereka berpacaran selama empat tahun, hingga pada saat perceraian di keluarga Owlen selesai, akhirnya Rick membawa Miranda dan melamarnya. Mereka bertunangan hingga akhirnya Miranda pergi meninggalkan Rick begitu saja. Rain tidak menyukai gadis yang senyumnya seperti evil itu semenjak dia menanamkan prinsip kalau Rick pergi meninggalkan rumah karena Miranda.
           “ kau pasti masih mengingat adik ku bukan?”Tanya Miranda sambil menyeret halus tanganku menuntun ku ke arah sofa di ruang tengah yang sudah didarati oleh pria ter-playboy sejagat raya, Prasetyo Wolfen. Dia duduk dengan memasang tampang bosan. Dari jauh, saat Miranda dan Rain akan menghampirinya dia bisa melihat dada bidang milik Tyo bergerak dan dari bibir tipis nya terdengar desahan berat, sementara Miranda si gadis sialan meninggalkan mereka berdua.
           “ sebenarnya aku berharap kau tidak datang. Tapi berhubung aku mendengar nama keluarga Wolfen aku jadi agak tersiksa.”kata Rain.
           “ lihat.. kau saja tidak menghargai wanita yang sedang bicara dengan mu.”lanjut Rain lagi. Dia bangkit berdiri, risih duduk dengan Tyo.
           “ apa maumu sebenarnya?”Tanya pria dingin itu tiba-tiba. Rain tetap berjalan santai dan kemudian berkata

           “ tidak ada. Lupakan”kata gadis itu lalu meluncur ke ruang makan.

to be continue.......:* 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar