Minggu, 24 November 2013

BEBANKU

Bebanku.
            Aku bahagia bisa memilikimu. Aku bahagia karena kau orang yang mengerti perasaanku. Aku bahagia dengan sisi lainmu. Aku bahagia karena aku bisa menjadi bagian dari pengisi hidupmu. Aku bahagia, karena kau selalu memberikan aku dukungan dan kau berusaha ingin tau semua apa isi hatiku, apa yang sedang terjadi dengan ku dan apa yang membuat hatiku terluka. Aku bahagia………
            Kegigihanmu berusaha tetap mengimbangi perasaanku membuat ku takjub. Ini yang ku tunggu selama ini. kau memberikan sebuah hadiah special, lebih dari SPESIAL di sepanjang kehidupanku. Aku berterima kasih kepada Tuhan karena dia mengirimkan seseorang menjadi kado terindah di sepanjang hidupku selain kedua orang tuaku.
            Kau berusaha ada, mengangkat ku bersama dengan mu tak ingin aku tertinggal jauh dari kehidupanmu. Kau menggenggam tanganku erat, menerobos setiap sela-sela jariku, menariknya lebih erat hingga aku harus memelukmu dan merasakan hangatnya tubuhmu. Aku memejamkan mataku sesaat. Apa begini cinta yang sesungguhnya?. Selama aku menjelajahi apa itu cinta, tak pernah aku mengalami dunia cinta yang nyata seperti ini. oh. Jadi ini namanya cinta? Sudah lama aku ingin memelukmu. Hingga akhirnya semuanya terwujud sudah. Saat kau menggenggam tanganku, tau kah kau? Hampir saja menetes air mata ku. Apa selanjutnya ya Tuhan? Bagaimana kisah ku selanjutnya.
            Ketika aku sampai di depan pintu gerbang depan rumahku. Itu seakan menggambarkan ada perbedaan diantara kita yang berusaha kita terobos sekarang. Dua orang disana menatap tersenyum kepadaku, begitu juga dengan kau dengan kesungguhan mu memandangku. Aku bingung haruskah aku memilih? Kenapa Tuhan?!! Kenapa?!
            Kembali kita bertemu. Di bawah sinar lampu bewarna warni menjadi pemberi warna diantara kita. Kau mengulas kembali semuanya. Mengulas malam kemarin…saat kau bertemu sosok ayahku. Dan aku harus mengingat kembali perkataan orang yang ku cintai, ayahku. Kau bisa melihat ada sesuatu yang berbeda saat aku terdiam tak menjawab pertanyaanmu, …
            Perlahan namun pasti, air mataku tumpah. Sebenarnya aku berusaha menahan. Tapi ada beban yang menekan ku dengan keras hingga aku harus merasakannya. Aku tak bisa mengatakannya untukmu karena aku takut kau terluka. Aku tak ingin menyakitimu setelah sering kali aku membuat dirimu merasakan kegalauan, kesedihan , sakit hati mendalam. Cukuplah aku yang merasakan ini, hingga ada waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Ada sebaris doa dan harapan semenjak semalam menghabiskan waktu dengan mu. Aku hanya bisa menangis saat ibadah hari ini. Aku sedih, ingin sekali menggantung diriku dihadapanmu, agar cintaku abadi. Biar arwah ku terbang bebas menyelimuti disekitarmu, hingga pada akhirnya aku bisa menerima kenyataan. Bahagia atau tidak……..serahkan pada Tuhan bukan? :’)
Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Iman kita……… itu yang ku pikirkan.
24 november ‘13(22:10)


Senin, 18 November 2013

MOVE ON WOI!

MOVE ON



            Ketika kamu memasuki  bulan baru, pasti akan ada kebutuhan baru yang harus kamu penuhi. Maka, kamu perlu ke supermarket  atau ke pasar untuk memenuhi kebutuhan kamu (oke kita pakai supermarket aja guys). Pertama yang kamu lakukan adalah mengecek barang-barang apa saja yang sudah tidak ada stoknya, kemudian kamu juga pastinya mengecek beberapa barang yang sudah kadaluarsa bukan?. And then buat list dari barang-barang tersebut. Setelah itu pergi ke Supermarket. Saat kamu melangkah menuju supermarket pastinya kamu harus mengambil troli bukan untuk mengurangi beban kamu agar tidak kelelahan. Kemudian kamu akan menelusuri tiap lorong yang menyediakan kebutuhan kamu seperti yang ada di list barang-barang kebutuhan mu.

Sekarang apa hubungannya dengan MOVE ON?
            Hari ini aku bakalan gak bawa kalian galau. Melainkan berusaha menyadarkan kalian untuk pergi jauh dari kenangan lama alias MOVE ON. Terus maksud ilustrasi di atas apa??

Jadi gini…..

            Saat kata “kita putus” atau “ kita cukup sampai disini “ atau “ loe gue end.”(Gaulnya) meluncur keluar dari salah satu dari kalian itu berarti kalian akan menghadapi sebuah hari baru, lembaran baru, jiwa baru. Itu tuh, kayak bayi yang baru lahir jadi kesannya suci. Nah, begitu juga hati kalian. Ada seseatu yang lebih penting yang sudah lama terbengkalai dari hidupmu. Mungkin hobi kamu, misalnya kamu suka musik di gitar dulunya terbengkalai gitu aja. Disaat kamu baru putus atau tidak bisa Move On coba tekuni hobimu tersebut, ini adalah hal tepat buat mengatasinya. Atau dulu kamu tidak punya waktu dengan keluarga bahkan sahabat kamu, ini adalah saat kamu membagi waktumu yang terbuang dengan mereka. Kamu renungkan apa saja yang sudah lama tidak kamu lakukan, kamu renungkan apa saja yang sudah kamu sia-siakan (selain Kisah atau kenangan kamu  yang sudah membusuk itu.) Buang semuanya yang mulai tak berguna dengan punya bayangan seperti ini : “Loe itu barang. dan loe udah kadaluarsa. Kok gue bisa-bisanya nyimpan barang kadaluarsa ga guna di sini?! Loe tau gak elo itu udah nyemakin kamar gue! Tempat loe cocok nya disini! (buang ke tempat sampah) atau (BAKAR!).”
           
            When the  matahari terbit, itu berarti ada lembaran baru yang perlu di isi. Anggap Supermarket itu adalah dunia ini, dan setiap lorong-lorong yang dipenuhi barang itu anggap sebuah lorong kehidupanmu. Anggap barang-barang itu adalah sebuah rencana Tuhan kedepannya dan kamu siap menampungnya dengan trolimu.  Oh ya, anggap Trolimu itu adalah sebuah tubuh,perasaan, akal dan pikiran dan jiwamu. Telusuri lorong kehidupan itu dengan  terus melangkah maju dengan mengisi trolimu, jangan biarkan kosong!. Isi dengan sesuatu yang memang benar-benar kamu butuhkan.! Jangan pernah kembali ke semula! Jalan terus bersama trolimu melangkah kedepan, sama seperti kamu melangkah terus demi masa depanmu. Saat kamu ke kasir kamu akan membayar barang-barang yang di trolimu bukan? Nah, itu umpamanya seperti kamu mengucap syukur kepada Tuhan. Bukan berarti menucap syukur dengan uang melainkan dengan Doa. Karena kamu sudah di bimbing melangkah maju terus sesuai dengan rencana-Nya tadi. Perlahan dengan pasti kamu akan lupa dengan barang-barang kadaluarsa tadi. Kamu lalui dengan senyum. Kamu lalui dengan ketawa. Memang ada saatnya kamu akan bertemu mantan, tapi yang perlu kamu ketahui adalah bisa jadi pertemuan kamu itu adalah pertemuan awal dan terakhir setelah kehidupan kamu yang baru. Dan ingat, ketika terpecik lagi rasa kangen, cemburu, cinta , hei! itu tidak utuh lagi, itu hanya seperti kentut yang menyebarkan bau sejenak dan kamu akan menghilangkan bau itu sendiri dengan parfume mungkin atau pengharum ruangan. Keren kan?! Say AWESOME! ;) Yukk Move On.






Ini Request-an temen + sohib gue.

With Love
Iyuth Clara J



Sabtu, 16 November 2013

Owl and Wolf 3

Semuanya berkumpul di ruang makan menikmati hidangan yang sudah di suguhkan. Ada roti bakar, bacon, orak-arik telur, teh inggris, kopi luwak yang dipesan khusus oleh Wijaya sebagai hadiah untuk keluaga Owlen, pudding coklat di taburi fla vanilla ada brownis dan juga tidak ketinggalan tiramisu cheesecake kesukaan Rain. Garpu, dan gesekan pisau yang menggesek piring menjadi pengisi suara di sela-sela pembicaraan dari ketiga keluarga besar ini. Dia heran dan dia tidak pernah tau kalau Tyo bisa berbicara sedewasa ini. Miranda kakaknya yang menyebalkan itu sesekali ikut tertawa dan tawanya terlalu renyah. Rick hanya tersenyum tipis dan Robert dari tadi sibuk dengan punggung tangan Laura Wijaya.
     Rain bingung, sandiwara apa yang harus dia lakukan mengisi kekosongan kegiatan sampingan di meja makan tersebut. Dia ingin menimpali perkataan antara ibunya, tante Farah, om Gideon, Tante Wendi dan om Ferdi serta bekicot kecil Tyo.
           “ ehem. Jadi bagaimana dengan gadis pendiam kita ini? “ Tanya Om Ferdi wijaya tiba-tiba.
           “ kau semakin dewasa dalam berpenampilan rain.. sepertinya kentucky memberikanmu banyak pelajaran.” Kata tante Farah tersenyum lembut. Apa ini ciri khas keluarga Wolfen?  Batinnya.
           “ terima kasih. Lingkungan disana betul-betul berbeda jauh disini. Sebenarnya disana lebih liar. Maksudku pergaulannya. Tapi, yah seperti ikan salmon. Harus melawan arus jika ingin menjadi yang terbaik.” Suara tawa dan juga senyum serta pujian, cukup membangunkan senyum manis Rain.
           “ kau memang sudah dewasa. Kau pintar berbicara. “ timpal Gideon.
           “ ayolah, gadis kecil tidak selamanya manis bukan? Aku sudah 20 tahun .” kata Rain sambil terkekeh. Semuanya tertawa, kecuali Tyo.
           “ lalu bagaimana dengan Pras?” Tanya om Ferdi lagi.

           “ pras.. ya. Kalian tau bagaimana dia. Semenjak tidak dituruti berkuliah di L.A dia menjadi diam dingin seperti ini. tapi dia tidak jauh beda dengan Rain. Dia semakin dewasa dan juga semakin bijak dalam situasi. Bagaimana pria yang beranjak dewasa seperti itulah dia.”kata Gideon dan kemudian semuanya melontarkan senyum puas sekaligus kagum. Rain mendengus seakan mengatakan hah! Basi…padahal om Gideon tidak tau sikap anaknya dimasa SMA dulu. Bahkan saat tim universitasnya bertandang ke Kentucky! Dia sempat menggoda dosen yang dikiranya siswa. Kurang ajar. Batinnya. 


to be continue :D

Jumat, 15 November 2013

OWL and Wolf

Sebuah keluarga lengkap dengan suami, istri dan dua orang anak yang masing-masing wanita dan pria keluar dari bagian belakang. Membalas salam hangat dari keluarga owlen dan wolfen. Lalu kemudian di ikuti dengan salam akrab khas ala pria macho di belakangnya. Rain makin betah memandang keharmonisan tiga keluarga yang ada didepannya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kebiasaan ibunya yang selalu lebih asyik dan hingga terbuai berbicara diluar, lupa mempersilahkan masuk tamunya sekalipun itu presiden.kurasa. Tiba-tiba pria yang datang dengan keluarga Wolfen memandang keatas dengan tatapan dingin lalu melihat gadis bergaun warna peach memandangi mereka.
           “ ayo masuk. Aku yakin kalian sudah lapar dengan perjalanan jauh yang kalian alami. Ayo..Farah, Gideon wolfen.”kata Ria kepada kedua sahabat lamanya itu.
     Mereka masuk dan segera Rain turun kebawah. Dia tidak ingin di omeli. Perlahan menyusuri anak tangga dan kemudian masih seperti kejadian di luar pekarangan rumahnya, mereka tetap bertukar salam hangat kemudian ramah kepada Oma yang hari ini tampak lebih segar setelah meminum lima botol bir rendah alcohol. Oma hari ini sangat berkilau dengan setelan ala senator wanita dengan warna soft orange dan kemudian lipstick merah pucat dan sedikit eyeshadow dan blushon tipis cukup untuk membuatnya tampak muda.
     Oma bukan seperti Oma atau nenek-nenek yang lainnya. Dia masih tegap berdiri dengan rambut colanya yang ikal dan matanya hijaunya. Umurnya 59 tahun dengan senyum dan gigi putih rata yang masih utuh.
           “ hei.. putri kecilku…” seru ibu menyambutku dengan antusias. Dengan cepat tante Farah dan om Gideon melirik kearahku dan tersenyum seakan melihat berliat langka yang muncul di hadapan mereka. Begitu juga dengan keluarga wijaya.
           “ hai rain. Apa kau masih mengingatku?”Tanya gadis itu melangkah dengan pasti merentangkan tangannya dibalik gaun vintage berwarna biru tua yang membuat kulitnya tampak lebih kontras dan mempesona. Dia lebih tinggi dibandingkan Rain.
           “ hahaha, tentu saja.kau gadis yang menghancurkan mental rick…” batinnya sesaat.
           “ kau jauh lebih cantik sekarang. “katanya memuji. Cih! Senyumnya tetap sama seperti Rain pertama kali di perkenalkan oleh Rick. Saat itu, Rick dan Miranda sedang berada di restoran Itali. Rain yang saat itu sedang menjadi teman kencan Sebastian Orlando, melihat Rick kakaknya mencium mesra Miranda. Miranda waktu itu sedang duduk di bangku SMP sementara Rick SMA. Takut ketahuan oleh sang ibu, Rain mengancam hingga akhirnya dia terpaksa memperkenalkan Miranda pada Rain. Hubungan Rick berlangsung lama hingga akhirnya masa-masa backstreetnya tercium ibunya. Mereka berpacaran selama empat tahun, hingga pada saat perceraian di keluarga Owlen selesai, akhirnya Rick membawa Miranda dan melamarnya. Mereka bertunangan hingga akhirnya Miranda pergi meninggalkan Rick begitu saja. Rain tidak menyukai gadis yang senyumnya seperti evil itu semenjak dia menanamkan prinsip kalau Rick pergi meninggalkan rumah karena Miranda.
           “ kau pasti masih mengingat adik ku bukan?”Tanya Miranda sambil menyeret halus tanganku menuntun ku ke arah sofa di ruang tengah yang sudah didarati oleh pria ter-playboy sejagat raya, Prasetyo Wolfen. Dia duduk dengan memasang tampang bosan. Dari jauh, saat Miranda dan Rain akan menghampirinya dia bisa melihat dada bidang milik Tyo bergerak dan dari bibir tipis nya terdengar desahan berat, sementara Miranda si gadis sialan meninggalkan mereka berdua.
           “ sebenarnya aku berharap kau tidak datang. Tapi berhubung aku mendengar nama keluarga Wolfen aku jadi agak tersiksa.”kata Rain.
           “ lihat.. kau saja tidak menghargai wanita yang sedang bicara dengan mu.”lanjut Rain lagi. Dia bangkit berdiri, risih duduk dengan Tyo.
           “ apa maumu sebenarnya?”Tanya pria dingin itu tiba-tiba. Rain tetap berjalan santai dan kemudian berkata

           “ tidak ada. Lupakan”kata gadis itu lalu meluncur ke ruang makan.

to be continue.......:* 

OWL AND WOLF

“THE BEGINING”


     Jarinya menari indah di antara senar gitar, memetik dan melantunkan sebuah nada indah terdengar. Mengisi ruang hampa yang bergaya klasik dan kuno. Bersentuhan dengan nilai estetika keindahan yang tinggi. Nada itu tiba-tiba berakhir dan kemudian riuh tepuk tangan penonton serta senyum puas terpancar. Antusias setiap penonton memberikan dia semangat yang semakin berkobar hingga dia tersadar baru saja dia mimpi.
     FUCK ITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!
Suara klakson dari kereta bawah tanah yang di naikinya membangunkannya dari ribuan mimpi indah selama dua jam lebih tertata rapi di benaknya menyisakan sebuah penglihatan yang semu.
          “ hufttt. “ desahnya menghela nafas sejenak.
Dia mencari benda penghitung waktu dari dalam tas tangannya. Tak kunjung mendapatkan apa yang dicari, segera di awasinya seseorang yang memakai jam tangan.
          “ permisi ,..tuan. maaf.sekarang sudah jam berapa?”Tanyanya sopan.
          “ jam tujuh lewat delapan malam.” Kata orang tua yang sudah memasuki usia senja tersebut.
     Setengah jam lagi dia akan memasuki kota terpadat di dunia, New York. Setelah berdebat hebat dengan suara-suara berisik kereta bawah tanah, dia keluar dari terowongan remang-remang itu dengan mantel merah maroon yang di belinya di salah satu butik ternama di Kentucky. Sepatu boots hitamnya yang sudah kusam dan kaus kaki warna hitam dan di balut dengan stocking begitulah penampilannya sekarang saat memasuki gedung berlantai-lantai dan menjadi tempat bernaung sementara untuk hidup selama menjelajah di New York. Kota itu begitu sunyi ketika malam hari. Hanya ada beberapa aktifitas malam yang berbau negative yang terpampang di mata bulatnya. Sampailah dia di komplek perumahan khusus untuk orang-orang Indonesia.
     Kakinya terhenti merasakan bunyi suara telap kaki lain di belakangnya. Dan, tebakannya tepat.
          “ kapan kau datang? Kenapa tidak meneleponku?” Tanya pria sebayannya sambil menggerakkan ponselnya. Gadis itu berlari kecil dan kemudian memeluknya.
          “ aku merindukanmu sobat..”kata pria itu.
          “ aku juga.” Balasnya.
          “ hem..sudah berapa lama aku tidak melihatmu ya? Empat tahun? Sepuluh tahun?” goda pria itu.
          “ sudahlah kak. Aku lelah untuk menanggapi senyum jailmu.” Kata gadis itu dengan wajah letihnya.
          “ ayo masuk. Tante sudah menunggu mu dari tadi. Ada paman Joy dan oma Ana di dalam.” Kata pria itu dan menarik lengan gadis itu.
_T_

          “ bisa aku menambah minumanku”kata wanita tua itu di kursi malasnya.
          “ oma.. sudah jangan banyak minum.”kata wanita yang ada disampingnya. Dia adalah anak tertua di keluarga Owlen.
          “ hei lihat siapa yang datang!” pekik Hana gadis remaja yang sekarang duduk di bangku SMP.
          “ Rain…!!” pekik orang-orang yang ada didalam.
     Si pemilik nama segera terkejut dengan keramaian yang ada didalam rumah. Dia tidak pernah menyangka kalau ibunya akan membuat pesta penyambutannya sebesar ini. Bagi Rain jika semua keluarga berkumpul, pasti ada pesta besar.
          “hai Hana apa kabar?” sambut Rain.
          “ hai oma apa kabar? Aku sangat merindukanmu.”kata Rain sambil memeluk wanita paruh baya itu yang masih bermalas-malasan di kursi kesayangannya.
          “ hai mom.. aku pulang.”kata Rain dan ibunya memeluknya dengan erat. Begitu juga dengan kerabat yang lainnya.
          “ hai rain. Kau pulang..” suara berat itu membuatnya terkejut. Dia tidak menyangka, Rick kakaknya yang sudah lima tahun lebih tidak ditemuinya, Rick yang sangat menyebalkan,Rick yang selalu membuatnya susah jika mereka bertemu di jam makan siang waktu SD dulu kini berdiri di hadapannya dengan perubahan yang besar. Tubuhnya semakin kekar dan dadanya lebar dan kokoh tumbuh bersama rahangnya yang terbentuk sempurna. Rain segera memeluk tubuh besar tinggi itu dengan erat seperti memeluk disaat terakhirnya harus berpisah dengan Rick waktu dia akan memulai pendidikannya di Kentucky.
          “ aku senang kau datang..”kata Rain dengan nanar.
     Rick mengelus rambut adik bungsunya ini di ikuti senyum dan haru dari ibunya. Semenjak perceraian ibu dan ayahnya, Rick jarang pulang kerumah. Dia hanya tinggal dengan kakak tertua nomor duanya. Ada atau tidak ada Rick dirumah sebenarnya tidak terlalu berpengaruh, tapi bagi Rain kelengkapan itu penting.
          “ kemarilah, aku ingin mendengarkan cerita dari Kentucky.”kata Rick membawanya ke ruang santai tak jauh dari ruang berkumpulnya kerabat lain.
          “ aku heran, kenapa semua kerabat datang?”Tanya Rain sambil menerima wine dari Robert.
          “ yah, sebenarnya ada tujuan lain dari ini.”kata Robert kemudian mereka bertiga bersulang.
          “ so.. apa yang disembunyikan dua pemuda tampan ini sekarang?”Tanya Rain menatap Robert dan Rick bergantian.
          “ Robert akan menikah.”kata Rick sambil tersenyum.
Rain yang saat itu sedang santainya duduk sambil menenggak wine tiba-tiba sontak terduduk dengan matanya membesar kemudian batuk-batuk karena cairan itu masuk secara tidak teratur melalui tenggorokannya. Rick dengan cepat memukul lembut punggung mungil Rain.
           “ kau tidak berubah ain..”kata Robert terkekeh geli melihat reaksi spontan adiknya.
           “ ba..bagaimana bisa kau menemukan pasangan hidup?”Tanya Rain masih berusaha mencari pernapasannya.
           “ apa maksudmu? Mentang-mentang tampang rick lebih menggoda jadi aku tidak boleh menikah cepat?”Tanya Robert semakin melebarkan senyumnya di iringi kedua giginya yang tersusun rapi. Robert adalah seorang dokter gigi di London.
           “bukan begitu maksudku. Aku rasa Rick lebih dulu tunangan dulu.. sementara kau ..” Rain tiba-tiba berhenti berusaha mengolah keadaan yang masih belum dia mengerti.
           “ kenapa ain?” Tanya Rick menatap ekspresi Rain penuh selidik.
           “ apa calon kakak iparku hamil duluan?”Tanya Rain berbisik pelan.
           “ siapa yang hamil?” suara itu membuyarkan lingkaran kepala mereka yang tadi sempat merapat. Berdiri di hadapan Rain sekarang gadis dengan tinggi kira-kira 170 dengan heels 5 cm memakai setelan musim dingin dari DIOR, rambut sebahu ikal.
           “ siapa yang hamil?”Tanya gadis itu semakin penasaran. Dia memandang Rain lekat-lekat dan melihat kedekatan Robert yang begitu dekat dengan Rain hingga memegang punggung tangan gadis yang usianya jauh lebih muda darinya.
           “ hei laura…”sapa Rick berusaha mencairkan suasana.
           “ rain, kenalkan. Ini calon istriku. Laura.”kata Robert berdiri melingkarkan tangannya kepinggang Laura yang ramping. Sempat Rain menebak-nebak berapa ukuran pinggang ramping nyaris sempurna itu?
           “ hai.. aku Rain. Rain Owlen.”sapanya dengan senyum termanisnya.
           “ aku Laura Wijaya. Kau adik Robert yang paling bungsu?”Tanya Laura yang mulai ramah.
           “ iya… maaf aku mengira tadi kau hamil. Makanya kak Robert mau menikahi mu.”kata Rain dengan polos. Rick yang mendengarnya gemas dengan sikap Rain yang terlalu polos.
           “ hahahaha, kau lucu Rain. Aku masih perawan. Apa perutku terlihat buncit?”Tanya Laura mulai meminta pendapat. Robert tak ingin menciptakan sebuah lingkaran percakapan khusus wanita dengan cepat dia menarik Laura mengatakan embel-embel ingin mengajaknya dansa karena kebetulan paman Joy memainkan piano dengan music klasik ala 80’an.
_T_

     Matanya masih ingin tertutup. Tapi dia mulai tidak tahan dengan sinar matahari yang melasernya habis-habisan dari luar. Dengan cepat dan gerutuan panjang dia menuju jendela dan kemudian menutup tirainya. Dia merasa sial, karena tadi malam harus tertidur disofa mendengar Bibi joy menyanyikan lagu jazz dengan piano yang dimainkan paman Joy. Bibi Joy pernah masuk ke sekolah seni di New York dan beberapa lama kemudian dia membuka les Vokal yang sempat juga di geluti Rain. Tapi sayang setelah sekian lama, tempat Vokal itu tutup dan sekarang berganti dengan CafĂ© santai yang banyak di geluti para remaja seusianya.
     Dia kembali ketempat tidurnya dengan piama orange terang dan kemudian menutup matanya dengan kacamata tidurnya. Saat akan menarik selimut, tiba-tiba ketukan pintu membuyarkan kelanjutan mimpinya.
     Tokk…Tok..Tok….!!
           “ ya! Apa?!” seru Rain dengan keadaan setengah sadar.
           “ astaga. Kau bau alcohol sayang. Berapa banyak Rick menyuruh mu meneguk minuman? Cepat segera mandi, ganti pakaian . mom tunggu sepuluh menit lagi dibawah.20 menit lagi acara sarapan pagi bersama dengan keluarga Wijaya dan keluarga Wolfen akan segera dimulai. Gunakan dress warna peach yang ada di lemari sudah mom sediakan. Love you my little cute girl.”Mom meninggalkan sebuah kecupan kesadaran di pipi Rain. Dengan cepat dia menarik handuk lalu masuk ke dalam toilet. Beberapa lama kemudian dia keluar memakai jubah mandinya. Dia menyisir rambutnya seketika mencerna sekali lagi perkataan ibunya didepan pintu.
           “ apa tadi ibu mengatakan keluaga wijaya? Berarti … keluarga calon istri kak Robert akan segera datang. Hah! Aku benci sarapan pagi keluarga.” Gumamnya. Dia beranjak ke lemari dan mendapati gaun yang dikatakan ibunya. Dengan cepat dia masukkan ketubuh mungilnya lalu di tatanya sedikit rambutnya dengan French hair. Yang dia butuhkan dari tadi adalah, udara segar dan sinar matahari. Dengan cepat dia membuka tirainya. Sesaat dia memandang ke arah depan pemandangannya. Ada beberapa atap rumah di komplek perumahan tersebut dan di belakangnya sebuah bukit dan ada peternakan kuda.
     Kemudian dia mengarahkan kedua bola mata coklatnya ke bawah. Dia berjalan perlahan ke balkon dan kemudian melihat keluarga wijaya turun satu persatu dari mobil mewah berwarna putih. Yang benar saja mereka menggunakan mobil itu. Hah dasar payah!. Saat asyik dengan komentar-komentar dalam hatinya, dia kemudian melihat sedan merah memasuki pekarangan rumahnya.

           Sepertinya aku kenal mobil itu..tapi dimana?...

to be continue

Rabu, 13 November 2013

..TAHU DIRI..

…Tahu Diri…

            Bukan ini mauku, tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku bisa merasakan sosok kehadirannya didalam mimpiku yang menyelimuti tidurku. Kami memang sudah tidak lama bersama, tapi entah kenapa awalnya begitu mudah untuk melepas dia yang sekarang sudah tak lagi terengkuh hatinya. Aku meninggalkannya atas semua inisiatif dari hati yang tersakiti. Sikapnya perlahan kaku tak menentu kala itu, hingga aku sampai pada titik jenuh ku. Aku merasa aku sudah tidak dibutuhkan lagi. Apa aku harus selalu menangis? Kemudian tersenyum kepada semua orang seakan mengatakan ‘aku baik-baik saja’ sementara hatiku mulai pahit, hambar hingga akhirnya ku putuskan semuanya.
            Sudah berapa lama kita tidak bersama? Tidak melewati waktu? Membuat momen indah? Indah? Hm… mungkin itu hanya sekejap hingga kau menghentakkan sebuah pukulan keras di hadapanku seperti berkata ‘bisakah kau diam dan bersikap lebih dewasa lagi? Aku muak dengan perbedaan usia kita. Dewasalah dalam menyikapi aku. Ini aku dan berusahalah menerimaku’. Tapi apa kau pernah tau, dalam diam aku menangisi mu hingga aku merasakan insomnia bertubi-tubi berusaha memahami setiap kelakuan mu yang semakin tak bisa ku mengerti. Aku tak ingin menunjukkannya di hadapanmu. Kenapa? Aku terintimidasi dengan sikapmu.
            Aku wanita! Harusnya kau sadar! Sadar dimana posisimu sekarang?! Memang kita berusaha saling melengkapi, tapi jika tak ada inisiatif darimu sama saja aku harus berjuang sendiri melewati ribuan kawat duri yang semakin menusuk-nusuk hatiku. CUKUP!! Aku rasa ini semua sudah cukup! Cukup aku korbankan semua diriku untukmu. Hingga..’maaf. aku harus mengakhiri hubungan ini…aku harap kau bisa  menemukan gadis seperti ku . bersabar menghadapi setiap sikap yang kau sadari sendiri kalau sikapmu itu sangatlah tidak wajar. Kau tau, tapi kau tak ingin memperbaiki. Mana janjimu?! Palsu, basi!’.
            Setelah semuanya berlalu, beban ku hilang seketika. Aku belum bangkit , masih diterjang arus deras tapi berusaha melawan arus itu. Aku ingin pulih membuktikan bahwa aku bisa tanpamu. Aku bisa. Aku sekarang sudah lebih banyak tersenyum ketimbang berpikir bagaimana hari esok? Apa dia akan berubah sesuai janjinya. Maaf. Rasa penasaran itu sudah ku buang jauh sebelum kau menunjukkan sikap tolol mu tak berusaha untuk mengerti perasaanku. Aku jijik ketika kau mengatakan kalau kau siap jika aku meninggalkanmu. Dimana perasaan mu sebagai pria yang pernah berikrar kalau kau mencintaiku?! Pendusta. Cukup amarah ku, cukup kesedihanku. Aku tidak butuh peta untuk menemukan keceriaan ku kembali dan kebahagiaanku juga! aku mudah menemukannya!. Aku senang dengan aku yang sekarang.
            Setelah semuanya berlalu, disaat aku sedang menikmati kesendirianku, dan kau datang tiba-tiba perlahan menghantui setiap mimpi. Aku bertanya-tanya apa arti itu semua? Hingga pada akhirnya…….
            Rasanya seperti Bom Atom menerjang tubuhku, seperti luka yang disiram air garam, seperti hati yang sedang hangat diterjang dengan siraman air dingin. Kau muncul di depanku? Setelah kemarin kau meminta maaf. Kau telat mengatakannya sehingga setelahnya aku harus tersiksa di masa-masa indah ku yaitu mimpi. Dan sekarang kau muncul secara langsung di hadapanku ditempat pertama kali kita bertemu dan kau menawari ku untuk semeja dengan mu? Di tempat yang penuh dengan memori dan kau juga duduk di meja pertama kali kita membuat janji dulu hingga kau sendiri bisa melihat kilatan mataku dan begitu juga aku dan kau akhiri semuanya dengan perasaan cinta , mendaratkan sebuah kecupan dikening bahwa kita sekarang sah untuk menempuh perjalan bersama. Itu dulu…
            Aku berupaya untuk tahu diri. aku berupaya menahan hati ini, syok, desiran darah yang mengalir seperti tersengat ratusan volt sengatan listrik. Kenapa kau kembali?. Awalnya aku berupaya tahu diri tapi tak berhasil terpaksa menyapa nama belakangmu untuk membalas bibirmu yang berkata namaku. Ketika memandang mu semua hal-hal yang dulu kau buat yang membuatku sakit hati muncul di benakku hingga aku memutuskan untuk menyerah dan hingga aku membalas ajakanmu dengan senyum serta penolakan halus hingga aku pergi dan aku berdoa berkoar dalam hati…”Pergilah….menghilang sajalah lagi…..”

13 november 2013
For my new friend.
Thanks for giving me inspiration.

I.Y.U.T.H


                        

Senin, 04 November 2013

It’s November Rain.. with Distance.

It’s November Rain.. with Distance.


             Ini November, seperti yang ku ketahui sama seperti November sebelum-sebelum-sebelum dan sebelumnya lagi, seperti 17 tahun lebih lamanya aku mengetahui bahwa November itu identik dengan hujan menurutku. Ada sekilas bayangan embun di setiap kaca.
            Tadi, itu tadi ya…aku mengukir namamu , di sebuah kaca yang dibasahi ribuan bahkan miliaran tetes hujan yang mengenai kaca jendela angkutan umum yang kutumpangi. Rasanya geli, mengukir namamu disana dengan senyum dan bahagia karena aku merasakan betapa bersyukurnya hingga detik ini kita masih bersama.
            Ketika tanganku dengan lihai mengukir setiap huruf diatas embun aku sejenak berpikir betapa bodohnya aku mengukir namamu di kaca yang berembun. Kau tau sifat embun di kaca kan? Bertahan hanya ketika ada perpaduan dingin dan hangat. Dingin itu dari luar dan hangat itu dari dalam setelahnya hanya ada debu.
            Coba kau bayangkan jika, embun itu adalah Cinta kita. Dingin itu aku dan panas itu dirimu. Kenapa aku mengistilahkan ku dengan ‘Dingin’ aku bersabar dengan semua yang ada pada dirimu. Menerima sikapmu dan perlakuanmu dan meskipun kau tau itu egois tapi kau tetap menghantamnya ke dalam pikiran lewat kata demi kata yang engkau kirimkan. Aku bisa melebur, dan aku datang hanya musiman. Musim itu seperti warna sifatku setiap aku kerap kali gerah dengan kata-katamu hingga aku tak sekali dua kali bahkan lebih berkali-kali untuk mengatakan “bagaimana kalau kita putus..aku capek” dan dengan secepat kilat aku menyambar ku untuk meyakinkan ku. Aku senang tapi disisi lain rasanya seperti kau hari itu memberikan ku apel yang tampaknya manis, tapi rasanya asam dan aku berusaha membuangnya lalu kau berikan gula atau madu untuk memberikan rasa manis kembali tapi kesannya palsu dan aku tak tau itu.
            Kenapa kau ku istilahkan ‘Panas’? karena menurut ku kau selalu meleburkan kepercayaanku. Berusaha membuat segala sekelilingmu bisa kau leburkan hingga mereka seperti mengatakan “ ia ! buat dia begitu hingga dia menderita. Dia terlalu pasif” dan kemudian kau tertawa dan aku hanya tersenyum masam.
            Kita bisa bersatu, jika kau mengimbangiku bukan berusaha mendahuluiku. Aku bukan bermaksud menuduhmu dan menekan disin kalau perasaan dan bentuk rasa cinta mu salah, tapi aku sekedar menuntut hak ku.
            Ini November, kau berusaha membuatku bahagia. Jika kau ingin tau apa yang membuatku bahagia , bukan sesuatu yang mewah atau sesuatu yang sangat mahal yang bisa membentuk lekukan senyum terpintas diwajahku. Hati ikhlas ,senyummu dan rindumu serta rasa sayang yang membawamu datang kepadaku dan ada kesempatan untuk sebuah kebersamaan kita, itu sudah berarti berharga bagiku bahkan lebih. Kenapa aku tidak mau memaksa karena aku ingin kau melakukannya dengan tulus dan itu dari keinginanmu sendiri. Karenan aku tidak ingin memaksa…………….Karena cintaku tulus…meskipun ada perbedaan sangat besar diantara kita, tapi aku butuh balasan yang TULUS. Itulah CINTA ..


Love You.

Kamis, 24 Oktober 2013

Hurt


Untuk mu..
Dari Ketulusan hatiku..

            Kau tau semilir angin sedang tak bertiup hari ini. cuaca pun tak menunjukkan keseriusannya. Semenjak memasuki bulan oktober sejenak aku merasakan jenuh tapi tetap didalam teduh. Jenuh itu karena aku merasakan banyak spasi diantara kita. Sama seperti jarak yang berusaha kita minimize sekarang. Yang kusadari selama beberapa bulan ini adalah aku menyianyiakan perhatian mu, dalam mineset ku adalah, karena kau cuek maka aku juga seperti itu.
            Teduh itu saat aku bisa merasakan ketulusanmu. Teduh itu ada disaat aku mengingat kembali janjimu, bagaimana dirimu memperlakukanku dulu. Manis, sopan, lucu, penuh dengan canda. Aku mengecewakanmu beberapa kali dan kau tetap menganggap ku bahwa “aku yang terbaik dalam hidupmu.” Aku tak tau itu benar atau tidak…..
            Jenuh itu disaat aku mengetahui bahwa banyaknya aku membuat mu kecewa, kau menghitungnya hingga aku kaku dan takut berbuat kesalahan lagi. Hingga aku bodoh menahan semua kerinduanku yang harusnya kuluapkan tapi aku tak punya nyali. Ya, akhir-akhir ini aku tak memiliki nyali, semangat, dan  hobiku menyendiri. Bibir ini tertawa, suara ini riang menyambut hari , tapi hati ku? …….
            Teduh disaat kau meyakinkan ku, disaat kau membuat semuanya seakan indah, disaat kau kembali menggenggam ku, mengucapkan “percayalah semuanya akan baik-baik saja” kau selalu menang. Dan aku dengan lugunya berpikir, “dia benar serahkan saja semuanya kepada Tuhan.” Hingga aku membawanya dalam doa.
            Jenuh saat aku harus menunggu mu, menghapus semua pikiran negative ku jika kau tak memberiku kabar. Kau tak pernah tau, pernah suatu hari sehabis pulang kuliah tepat pukul setengah tujuh malam, karena rindu ini tak terbendung lagi, aku pulang melewati jalan biasa engkau pulang kuliah dulu. Aku melewati komplek perumahan mu dan memutar lagu itu.
            Teduh. Nyaris tak ada teduh. Tapi kau selalu meyakinkan ku…
            Jenuh. Disaat semuanya bertanya, “Kenapa kau begitu sabar menghadapinya? Lihat perlakuannya” aku hanya tersenyum. “ apa kau nyaman bersamanya?” “cukup hanya aku dan Tuhan yang tau…. “ hampir meneteskan pilu.
            Menyerah. Aku beberapa kali berpikir seperti itu, tapi melihat perjuanganmu, melihat semua upayamu.. aku iri. Kau bisa kenapa aku tidak?.

            Aku memang pecemburu. Melihat semua sikap mu dengan wanita terkadang aku sakit hati. Tapi apa yang aku lakukan? Aku hanya menutup mata dan meyakinkan diri sendiri “cinta dan sayangnya  yang sebenarnya hanya untukmu…” dan aku pasrah. Terkadang aku tertawa melihat teman-teman ku yang berkata “jika aku menjadi dirimu, aku mungkin sudah marah besar dan aku mungkin sudah mengakhiri hubungan.”, kalian tak tau kalau dia yang ku cintai sekarang adalah hasil dari doaku selama setahun lebih. Dia sudah lama kutunggu.. jika kalian melalui semuanya sama seperti ku, kalian juga tidak akan menyianyiakannya. Karena entah kenapa … semenjak aku mengenalnya aku berusaha menghargai waktu yang sudah diberikan Tuhan kepadaku. Dan setelah itu , aku hanya bisa menangis….kenapa aku menangis? Karena bagiku kau berharga. Aku menghargaimu, aku mendengarkan semua apa yang kau ceritakan. Meskipun semuanya tidak menarik, tapi aku berusaha menjadi tempat curhat yang baik juga. Aku menerima keluh kesahmu, sikapmu yang terkadang brengsek kepadaku dengan tulus. Aku tau kau lelah, aku bersedia menjadi tempat lelahmu, tempat pengaduanmu selain kau mengadu kepada Tuhan.
Untukmu.. dariku.
Dear  my love ..
Jika suatu hari nanti kau tak bisa melihatku,merasakan bibirku,merasakan detak jantungku,merasakan hangatnya pelukanku, merasakan eratnya genggaman tanganku, melihat senyumku, melihat jatuhnya air mataku secara langsung, mendengarkan suaraku, melewati hari baik suka dan duka bersama ku kelak, Percayalah cinta ini dan seluruh perasaan ini hanya untukmu dan pernah menjadi milikmu. Ingatlah aku dan hapus setiap momen indah, kata-kata indah yang pernah kita buat. Hapus kenangan itu dan yang ku inginkan belajarlah dari apa yang  sudah kita lalui bersama.”



Love.you.

Senin, 02 September 2013

RAIN 3

BAB 2


            Rasa kantuknya masih tersisa di sela-sela pandangannya yang masih belum menemukan titik sesungguhnya. Si pemilik tubuh kurus itu keluar sambil menguap dari kamarnya dengan di iringi sinar matahari yang mengintip dari sela-sela ventilasi kontrakannya. Suara air meluncur kedalam gelas menjadi sebuah irama penenang sejenak di telinga. Tenggorokannya terasa kering setelah melewati tidur malamnya hanya empat jam.
                        “ ain, ada telepon untukmu.” Seru Merry teman sekontrakannya.
Siapa lagi kalau pagi-pagi seperti ini menelepon jika tidak Lidia, pasti Rey. Mereka biasa merengek-rengek supaya sesegera mungkin dia datang kesana dan membawa pesanan sarapan pagi mereka. Tapi ,  ini sudah jam sebelas apa mungkin mereka menunggunya? Apa mungkin mereka akan menyemburnya dengan kata-kata yang menghujam hatinya. Memang mereka seniornya sekaligus malaikat abu-abunya. Kenapa abu-abu? Karena mereka tak pernah menentu sifatnya.
                        “ halo…” suara Rain menggema sejenak di ruang tamu . 30 detik sapaannya akhirnya dijawab oleh suara berat dari penelepon.
                        “ kau Rain?”
                        “ ya… dengan siapa aku bicara?”
                        “ aku…… VIVIAN!!! Ahahahahaha. Kena!” seru suara cempreng disana.
                        “ sialan! Ku kira siapa! “
                        “ memang kau kira aku siapa?”
                        “ ku kira kau senior ku dengan jutaan dumelannya. Hahahaha. Ada apa menelepon sepagi ini..?”
                        “ aku menitip sesuatu pada seseorang. Dia akan menghampiri mu nanti tepat pukul satu siang di cafĂ© tempat biasa dulu kita bertemu.”
                        “ bagaimana bisa aku tau kalau orang itu pesuruhmu?”
                        “ gampang. Aku sudah memberikan fotomu.”
                        “ seenaknya kau memberikan fotoku pada orang yang tidak ku kenal?! “
                        “ hei,hei.. tenang saja. Dia tidak akan macam-macam.”kata Vivian. “ itu semacam cinderamata karena aku semalam baru pulang dari Prancis. Wuhuuuuuu…”                    
“ ya ampun, yaya. Baiklah. Aku mau ke kampus terlebih dulu.” Kata Rain dan kemudian mengakhirinya. Rain sejenak tersenyum menutup teleponnya dan kemudian segera berlari mengambil handuk.
&

                        “ jadi maksudmu kami tak memiliki kesempatan?!” seru Lidia dan alis matanya bertaut ditengah.
                        “ kau berarti belum mengerti daritadi maksudku Lidia.” Kata lawan bicaranya dengan tenang.
                        “ aku tak mengerti, sudah tiga tahun aku memberikan hiburan-hiburan baik untuk majalah kalian. Dan kalian meletakkannya di bagian belakang hanya sebagai lintas bacaan. Aku memakluminya. Tapi kenapa sekarang….. ah!” serunya dan mencampakkan penanya.
                        “ kami mengalami sedikit perubahan Badan kepengurusan. Semuanya berganti posisi. Dan sekarang orang yang menduduki produksi di bagian penerbit itu bukan Antonio lagi. Antonio di pecat setelah dia ketahuan menggelapkan beberapa dana perusahaan kami. Maka dari itu, kami sedang masa-masa pembangkitan sekarang.”
                        “ tapi, aku hanya menuntut hak ku jack! Baiklah, jika itu kehendak kalian. Aku akan menandatangani pemutusan kontrak ini!” dia mengambil pena dengan tinta hitam dan kemudian menantangani surat pemutusan kontrak kerja dengan Majalah RUNWAY.
            Lidia keluar dari perusahaan yang merupakan memproduksi majalah fashion terbesar di Indonesia. Dia melihat sejenak gedung itu dan bergumam terkutuklah manusia-manusia itu!. Rey hanya bisa diam setelah dia melihat Lidia menghentakkan meja mempertahankan kontrak hubungan kerja dengan Runway Magazine. Tapi semuanya tak bisa dipetahankan. Rey sejenak memahami Lidia sekarang. Dia bisa melihat betapa kuatnya tekad gadis itu berkarir dan tekadnya mengalahkan kakaknya, Sandi. Rey kemudian mengambil mobilke parkiran sementara Lidia menunggu di teras kantor tersebut. Lidia masuk setelah pintu ditutup keras. Mobil itu berjalan pelan dan sesekali menyeimbangkan dengan mood Rey.
                        “ apa dibelakang itu?” Tanya Lidia dengan suara tenang. Lidia melihat dari cermin didepannya.
                        “ itu titipan dari sepupu ku. Dia baru saja dari prancis.” Kata Rey dan sesekali focus didepannya. Selang beberapa lama kemudian mobil Rey sudah terparkir rapi di parkiran lalu mencari sosok gadis kurus yang ada di selembar foto yang ada ditangannya.
&
            Dari kejauhan dia bisa melihat seorang gadis dengan baju t-shirt I LOVE FASHION berwarna fanta dengan celana pendek jeans selutut dipadu dengan boots,sibuk memainkan ujung pensilnya diatas kertas tebal. Simple but intresting.
                        “ kamu,….Rain?” Rain mengangkat kepalanya tersadar dengan sosok yang berdiri didepannya.
                        “ iya.saya sendiri. Anda saudara Vivian?” Gadis yang disamping pria tinggi berkacamata itu tampak tak tertuju padanya, tapi pada apa yang ada didepan Rain.
                        “ itu, sketsa pakaian mu?” Tanya gadis tinggi berparas cantik dan ayu itu dengan alis mata tebal menyiratkan dia orang yang sangat tegas.
                        “ iya. .”

                        “ boleh aku lihat..?”

to be continue

Minggu, 01 September 2013

RAIN 2

Acara pagelaran akhir semester di kampus berjalan lancar. Tepat pukul 00.00 ditutup dengan ribuan kembang api dan beberapa pernak-pernik pemeriah acara besar seperti lampu neon dan lain-lain. Bagi Rain ini akan menjadi malam yang membutuhkan istirahat yang exra. Masalahnya sehabis ini dia pasti akan kembali menjajali dunia kesibukannya bermain dengan baju-baju rancangan para seniornya, mulai merapikan hingga membungkusnya dan mengantarkannya ke laundry. Dengan cepat , dia segera menyeleksi beberapa baju dan kemudian menyusunnya dengan rapi.
                       “ hei ain, kau tidak pulang?” Tanya Prianka model tinggi sekaligus mahasiswi di kampus ini. Dia sudah menjadi model Go Internasional beberapa model lainnya yang mengambil studi di kampus ini.
                       “ belum kak, masih ada beberapa kerjaan yang harus di bereskan nih..” kata Rain sambil menunjuk beberapa rancangan yang siap untuk digantungkan.
                       “ bilang dong sama seniornya, sama bagian panitia suapaya kamu di berikan keringanan.” Dalam batin Rain , dia Cuma bisa berharap andaikan para Senior mendengar ucapan Prianka saat ini. Andaikan orang-orang yang sedang lalu lalang sekarang disekitarnya mendengar ucapan ini..andaikan…….
                       “ ya, udah resiko begini kak..”kata Rain tak lupa dengan senyumnya.
                       “ wuahhh, salut deh sama kamu ain. Kalau gitu aku pulang dulu ya.. jaga kesehatan” kata Prianka menyentuh pundak Rain seakan mentransfer energy Prianka yang masih tersisa dari langkahnya diatas saat runway tadi.
           Buatnya semua ini bukan beban. Sudah sangat bersyukur dia dibantu oleh senior-seniornya masuk ke Institut Art Indonesia. Bukan hal yang mudah awalnya bergabung dan berteman dengan mereka. Rain menyukai dunia fashion sama seperti mendiang ibunya. Dia bertekad membawa nama harum ibunya kembali, setelah beberapa tahun yang lalu perusahaan mereka gulung tikar. Membuatnya harus mempelajari hidup dari bawah , menghadapi kehidupan social ditengah-tengah pergaulannya yang saat itu dia akan menginjak bangku SMA. Awalnya dia minder dan pada akhirnya dia dipertemukan dengan solusi baik dari seorang sahabatnya, Vivian.
                       “ jangan putus asa. Jangan dengar apa kata mereka. Coba tutup telinga mu seperti ini..dan pejamkan matamu.”kata Vivian sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya dan kemudian memejamkan matanya. Saat itu mereka berada di halte depan sekolah. Lalu lintas sangat padat, bahkan macet. Tak jarang motor berknalpot racing membuat jiwa mereka terganggu dan sesekali harus membuat volume suara mereka keras. Rain mengikuti Vivian.
                       “ anggap kamu lagi di hujat , di caci maki ribuan orang, ditengah-tengah  orang yang mem-bully kamu ain, …” kata Vivian. Rain membayangkannya, dia memejamkan matanya dan kemudian mulai tertekan. Rasanya perih dan air matanya mengalir lancar begitu saja.
                       “ sekarang tutup telingamu dengan telapan tangan mu ain..” kata Vivian. Rain melakukannya. Selang beberapa menit kemudian, Rain berkata..
                       “ begini lebih baik.. “ kata Rain dan membuka kedua matanya dan kemudian memeluk Vivian.
           Rain membuka semua yang pernah membuatnya nyaman dan tenang. Kini dia hampir meneteskan pilu.
                       “ kenapa bengong?” seru Rey tiba-tiba.
                       “…” tak ada jawaban membuat Rey khawatir.
                       “ kau sakit ain? Maaf ka..”
                       “ tidak, aku baik-baik saja. “kata Rain dan kemudian tersenyum.
                       “ hah! Disini kalian rupanya. Besok pagi datang jam sepuluh, ke kampus. Kita dapat wawancara dari salah satu majalah terkemuka.”kata Lidia, sang ketua Fashion Show.
                       “ dari majalah apa kak ?..” Tanya Rain.
                       “ aku berbicara pada Rey. Bukan kau. Ingat Rey, jam sepuluh jika berhasil…kau akan mendapatkan apa yang kita inginkan selama ini..”kata Lidia dan kemudian berlalu dengan senyum dari bibirnya yang sensual dan berkedip sebelah mata memberikan kode. Kode apa itu? Apa hubungan Rey dengan Lidia?
                       “ apa kalian punya janji kencan?” Tanya Rain tersenyum dengan mata selidik.
                       “ tidak. Aku punya mimpi yang sama dengan Lidia.”kata Rey.
                       “ ouh ya. Menikah..”kata Rain kali ini senyumnya semakin melebar dan kemudian menatap dengan tatapan meledek.
                       “ kenapa kau seperti itu ain? ..” Tanya Rey kali ini menantang.
                       “ tidak…. Semoga berhasil” bisik Rain dan kemudian pergi melewati Rey.
Rain tersenyum berhasil meledek Rey yang tertangkap basah ternyata punya hubungan khusus dengan atasan sekaligus seniornya itu. Lidia gadis yang sangat-sangat jutek dan terkadang terkesan ganas. Penampilannya memang tertutup. Tapi tubuh sensualnya mana bisa hilang. Dibalut pakaian setebal apapun , bentuknya tetap indah. Maka dari itu , banyak pria melirik dan sesekali mengajaknya kencan. Tapi kebanyakan menolak. Lidia mempunyai criteria tertentu untuk menjadi pasangan kencannya. Hal itu pernah di katakannya saat Rain dan Lidia sedang menyelesaikan suatu rancangan, hanya berdua dia Lab Desain.
                       “ Rain. Kemari..” seru Lidia.
           Ah! Pria itu lagi. Apa dia hendak mengajak kencan Lidia juga, dia kan…
                       “ jadi dia bagian asisten penanganan ini semua?”Tanya Pria itu sambil mengangkat satu alisnya.
                       “ iya. Dia asisten terhebat sepanjang abad yang pernah aku miliki.”kata Lidia.
Ya, pujian yang kali ini sangat-sangat berkesan bagi Rain dan paling sebentar lagi akan terhapus seiring jalannya waktu dan munculnya lagi kemurkaan Lidia dengan alas an..
                        “ maaf. Hormone dari datang bulan…”
                        “ rain, dia ini kakakku. Alvin Sandi Tenorady Dia ini manager salah satu perusahaan majalah PEOPLE di new York. Dia sekarang sedang magang di Indonesia mengambil kuliah di Institut of Art di New York khusus photographer.” Kata Lidia.
                        “ dan. Seperti ku bilang, ini Rain Senja Pahyeti. Dia junior disini dan asisten ku. “ kata Lidia.
                        “ hai, maaf soal kamera anda.” Kata Rain tertunduk dan tak berani menatap mata tajam itu.
                        “ ha? Kamera? Tolong jelaskan ini.”
                        “ sudahlah. Masalah sudah selesai. Aku pulang. Aku ingin istirahat. Selamat atas acara Fashion Show mu yang sukses besar.” Kata Sandi dan kemudian melewati Rain. Seperti ada tanda rasa tidak suka Sandi terhadap dirinya.

                        “ awal perkenalan yang tragis buatmu ain..”kata Lidia dan kemudian meninggalkannya di balik ribuan tanda Tanya yang sekarang muncul diatas kepalanya. Pasti Lidia membencinya. Ah, bukannya Lidia sangat benci dengan Rain dan hanya memanfaatkan ilmu kreatif dan sikap kritisnya ? memang.

to be continue